Jumat, 07 Februari 2014

BAGAIMANA BERBAIAT PADA PEMIMPIN ?

Bai’at berarti berjanji setia untuk mentaati pemimpin. Yang dimaksud di sini bukanlah pemimpin kelompok atau aliran tertentu. Yang dimaksud di sini adalah baiat pada pemimpin negara yang sah. Bagaimana bentuk bai’at tersebut?

ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ – ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ – ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻨَّﺎ ﺇِﺫَﺍﺑَﺎﻳَﻌْﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻋَﻠَﻰﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻨَﺎ » ﻓِﻴﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖَ »


Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Dahulu kami berbai’at pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar (menerima perintah) dan taat pada pemimpin kaum muslimin. Beliau bersabda pada kami, “Hendaklah engkau taat semampu engkau.” (HR.Bukhari no.7202 dan Muslim no.1709). Hadits ini disebutkan dalam urutan hadits no. 664 yang dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin dengan judul bab, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.”

Beberapa faedah dari hadits di atas:
1. Wajib berbai’at kepada pemimpin kaum muslimin. Bai’at yang dimaksud adalah berjanji setia untuk mendengar (menerima) dan taat.
2. Ketaatan pada pemimpin tergantung pada kemampuan. Jika pemimpin mengeluarkan perintah pada kaum muslimin di luar kemampuan mereka, maka tidak ada kewajiban taat.
3. Hendaklah setiap pemimpin berkasih sayang kepada rakyatnya, tidak memberatkan mereka dalam perintah. Sudah semestinya setiap pemimpin mengambil suri tauladan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semoga Allah memperbaiki keadaan pemimpin-pemimpin kita dan menunjuki kita taat kepada mereka dalam kebaikan.

Referensi:
Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654-655.


Selasa, 04 Februari 2014

BACAAN DZIKIR SETELAH SHOLAT DAN JARAK BATAS SUTRAH (pembatas sholat)

Ustadz Dzulqarnain bin M. Sunusi


Pertanyaan :

1. Apakah ada tuntunan dari Rasul Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengenai tartib (susunan) dzikir setelah sholat fardhu ?

2. Berapa jauh (jaraknya) orang bisa lewat di depan orang yang sedang sholat yang tidak menggunakan pembatas (sutrah ) ?

Jawaban :

Dengan meminta pertolongan dari Allah, pertanyaan anda dijawab sebagai berikut :

Jawaban Pertanyaan Pertama :

Para ulama sepakat akan disunnahkannya dzikir setelah sholat
sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawy dalam kitab Al-Adzkar 1/200 tahqiq Salim Al-Hilaly. 
Akan tetapi tidak ada tuntunan secara pasti dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengenai urutan/tartib dzikir tersebut. 
Maka boleh berijtihad dalam urutan dzikir tersebut.
Tapi bagi orang yang memperhatikan konteks hadits-hadits tentang dzikir di belakang sholat bisa menyimpulkan suatu kesimpulan yang baik tentang urutannya. 

Berikut ini kami sebutkan hadits-hadits tersebut :

Hadits Pertama : Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata :

ﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﻌْﺮِﻑُ ﺍﻧْﻘِﻀَﺎﺀَ ﺻَﻼَﺓِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮِ

“kami tidak mengetahui selesainya sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, kecuali dengan (mendengar) takbir”. (HSR.Bukhary-Muslim ).
Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya mengucapkan takbir
dengan suara yang keras dan Ibnu ‘Abbas menjadikan ini sebagai tanda selesainya sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang berarti takbir itu diucapkan langsung setelah sholat.

Hadits Kedua : Hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَﺍﺍﻧْﺼَﺮَﻑَ ﻣِﻦْ ﺻَﻼَﺗِﻪِ ﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَ ﺛَﻼَﺛًﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُﻭَﻣِﻨْﻚَ ﺍﻟﺴَﻼَﻡُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻳَﺎ ﺫَﺍ ﺍﻟْﺠَﻼَﻝِ ﻭَﺍﻟْﺈِﻛْﺮَﺍﻡِ

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila selesai dari sholatnya, beliau istighfar (meminta ampun) tiga kali dan beliau membaca : “Allahumma Antas salam wa minkas Salam tabarakta ya dzal Jalali wal Ikram” (Wahai Allah Engkau adalah As-Salam [1] dan dari-Mulah keselamatan. Maha berkah Engkau wahai Pemilik Al-Jalal (keagungan) dan Al-Ikra m (kemuliaan). ( HSR.Muslim)
Imam Al-Auza ‘iy rahimahullah –salah seorang rawi hadits tersebut di atas-ditanya : “Bagaimana istighfa r ?”,
beliau menjawab : “Kamu memgucapkan Astaghfirullah, Astaghfirullah“.
Dan serupa dengannya hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim :

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻠَّﻢَ ﻟَﻢْﻳَﻘْﻌُﺪْ ﺇِﻻَّ ﻣِﻘْﺪَﺍﺭَ ﻣَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻝُ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﻣِﻨْﻚَ ﺍﻟﺴَﻼَﻡُﺗَﺒَﺎﺭَﻛْﺖُ ﻳَﺎ ﺫَﺍ ﺍﻟْﺠَﻼَﻝِ ﻭَﺍﻟْﺈِﻛْﺮَﺍﻡِ

“Adalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau salam, beliau tidak duduk kecuali sekedar membaca : “Allahumma Antas salam wa minkas Sala m taba rakta yadzal Jalali wal Ikram”.

Hadits Ketiga : Hadits Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍﻓَﺮَﻍَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ : ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ, ﻟَﻪُ ﺍﻟﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛًﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳْﺮٌ.ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﻣَﺎﻧِﻊَ ﻟِﻤَﺎ ﺃَﻋْﻄَﻴْﺖَ ﻭَﻻَ ﻣُﻌْﻄِﻲَ ﻟِﻤَﺎ ﻣَﻨَﻌْﺖَ ﻭَﻻَ ﻳَﻨْﻔَﻊُﺫَﺍ ﺍﻟْﺠَﺪِّ ﻣِﻨْﻚَ ﺍﻟْﺠَﺪُّ


“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau selesai dari sholat dan telah salam beliau
membaca : La ilaha illallah wahdahu la syari kalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alakullisya’in qodir.
Allahumma la ma ni’a lima a’thoita wala mu’thia lima mana’ta wala yanfa’u dzal jaddi minkal jadd (Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, satu-satu-Nya tidak ada serikat bagi-Nya. Milik-Nyalah segala kekuasaan dan pujian dan Dia atas segala sesuatu Maha mampu. Ya Allah, tidak ada penahan bagi apa yang Engkau beri dan tidak ada pemberi bagi apa yang Engkau tahan dan tidaklah bermanfaat pemilik Al-Jadd (kekayaan/kemampuan) dari-Mulah Al-Jadd”. (HSR.Bukhary-Muslim).

Hadits Keempat : Hadits ‘Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma , beliau membaca di belakang setiap sholat ketika selesai salam :

ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ, ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳْﺮٌ ﻻَ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻻَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﺇِﻻَّ ﺇِﻳَّﺎﻩُ, ﻟَﻪُ ﺍﻟﻨِّﻌْﻤَﺔُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﻔَﻀْﻞُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟﺜَّﻨَﺎﺀُﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣُﺨْﻠِﺼِﻴْﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ. ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﻛَﺎﻥََ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﻬَﻠِّﻞُ ﺑِﻬِﻦَّ ﺩُﺑُﺮَ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ


“La ilaha illallah wahdahu lasyari kalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli sya’in qodi r. Lahaula wa la quwwata illa billa h. Lailaha illalla h wa la na’budu illaiyyahu, lahun ni’matu walahul fadhl walahuts tsana `ul husna. 

 La ila ha illahu mukhlishi na lahuddi na walau karihal kafiru n (Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, satu-satu-Nya tidak ada serikat bagi-Nya. Kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan pujian dan Dia atas segala sesuatu Maha mampu. Tiada daya
dan upaya kecuali dari Allah.

 Tidak ada ila h yang berhak disembah kecuali Allah dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Milik-Nyalah segala nikmat, utamaan dan pujian yang baik. 

 Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dan walaupun
orang-orang kafir tidak senang). 
Berkata (‘Abdullah bin Zubair):
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bertahlil dengannya di belakang setiap sholat”. (HSR. Muslim).

Hadits Kelima : Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

ﺃَﻥَّ ﻓُﻘَﺮَﺍﺀَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳْﻦَ ﺃَﺗَﻮْﺍ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮْﺍ : ﺫَﻫَﺐَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﺪُّﺛُﻮْﺭِ ﺑِﺎﻟﺪَّﺭَﺟَﺎﺕِﺍﻟْﻌُﻠَﻲ ﻭَﺍﻟﻨَّﻌِﻴْﻢِ ﺍﻟْﻤُﻘِﻴْﻢِ. ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻭَﻣَﺎ ﺫَﺍﻙَ ؟ ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَﻛَﻤَﺎ ﻧُﺼَﻠِّﻲْ ﻭَﻳَﺼُﻮْﻣُﻮْﻥَ ﻛَﻤَﺎ ﻧَﺼُﻮْﻡُ ﻭَﻳَﺘَﺼَﺪَّﻗُﻮْﻥَ ﻭَﻻَ ﻧَﺘَﺼَﺪَّﻕُﻭَﻳَﻌْﺘِﻘُﻮْﻥَ ﻭَﻻَ ﻧَﻌْﺘِﻖُ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﺃَﻓَﻼَ ﺃُﻋَﻠِّﻤُﻜُﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺗُﺪْﺭِﻛُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻣَﻦْ ﺳَﺒَﻘَﻜُﻢْﻭَﺗُﺴْﺒِﻘُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻣَﻦَ ﺑَﻌْﺪَﻛُﻢْ ﻭَﻻَ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺃَﻓْﻀَﻞَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺇِﻻَّ ﻣَﻦْﺻَﻨَﻊَ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﺻَﻨَﻌْﺘُﻢْ ؟ ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻗَﺎﻝَ :ﺗُﺴَﺒِّﺤُﻮْﻥَ ﻭَﺗُﻜَﺒِّﺮُﻭْﻥَ ﻭَﺗَﺤْﻤْﺪُﻭْﻥَ ﺩُﺑُﺮَ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ ﺛَﻼَﺛًﺎ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَﻣَﺮَّﺓً …

“Sesungguhnya orang-orang fakir dari kaum muhajirin datang kepada Rasulullah shollalla hu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu berkata : orang-orang yang mempunyai harta yang banyak telah pergi membawa derajat-derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal, maka (Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) bertanya :”Apakah itu ?”,
mereka menjawab “mereka sholat sebagaimana kami sholat dan mereka puasa sebagaimana kami puasa (tapi) mereka bershodaqah dan kami tidak bershodaqah dan mereka membebaskan budak dan kami tidak membebaskan budak. 

Maka Rasulullah shollalla hu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :” Inginkah kalian saya ajari sesuatu yang dengannya kalian akan mencapai orang yang mendahului kalian dan kalian mendahului orang yang setelah kalian dan tidak ada seorangpun yang lebih utama dari kalian kecuali orang yang mengerjakan seperti apa yang kalian kerjakan?”, mereka menjawab: ”tentu wahai Rasulullah”, beliau bersabda : “kalian bertasbih, bertakbir dan bertahmid dibelakang setiap sholat sebanyak tiga puluh tiga kali ….”( HSR. Bukhary-Muslim )

Hadits Keenam : Hadits Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shollalla hu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam , beliau bersabda :

ﻣُﻌَﻘِّﺒَﺎﺕٌ ﻻَ ﻳَﺨِﻴْﺐُ ﻗَﺎﺋِﻠُﻬُﻦَّ ﺃَﻭْ ﻓَﺎﻋِﻠُﻬُﻦَّ ﺩُﺑُﺮَ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ ﻣَﻜْﺘُﻮْﺑَﺔٍﺛَﻼَﺙٌ ﻭَﺛَﻼَﺛُﻮْﻥَ ﺗَﺴْﺒِﻴْﺤَﺔً ﻭَﺛَﻼَﺙٌ ﻭَﺛَﻼَﺛُﻮْﻥَ ﺗَﺤْﻤِﻴْﺪَﺓً ﻭَﺃَﺭْﺑَﻊٌﻭَﺛَﻼَﺛُﻮْﻥَ ﺗَﻜْﺒِﻴْﺮَﺓً


“Mu’aqiba t (bacaan-bacaan dibelakang sholat) dimana orang yang mengucapkannya dibelakang setiap sholat wajib tidak akan merugi, (yaitu) tasbih tiga puluh tiga (kali), tahmid tiga puluh tiga (kali) dan takbir tiga puluh empat (kali) “. (HSR.Muslim).

Hadits ketujuh :Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam beliau bersabda :

ﻣَﻦْ ﺳَﺒَّﺢَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓِﻲْ ﺩُﺑُﺮِ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ ﺛَﻼَﺛٍﺎ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَ ﻭَﺣَﻤِﺪَ ﺍﻟﻠﻪَﺛَﻼَﺛًﺎ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺛَﻼَﺛًﺎ ﻭَﺛَﻼَﺛِﻴْﻦَ ﻓَﺘِﻠْﻚَ ﺗِﺴْﻌَﺔٌ ﻭَﺗِﺴْﻌُﻮْﻥَﻭَﻗَﺎﻝَ ﺗَﻤَﺎﻡَ ﺍﻟْﻤِﺎﺋَﺔِ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ, ﻟَﻪُﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳْﺮٌ ﻏُﻔِﺮَﺕْ ﺧَﻄَﺎﻳَﺎﻩُﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﺜْﻞَ ﺯَﺑَﺪِ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ


“Siapa yang bertasbih dibelakang setiap sholat tiga puluh tiga (kali) dan bertahmid tiga puluh tiga (kali) dan bertakbir tiga puluh tiga (kali). Itu (semua) adalah sembilan puluh sembilan lalu ia berkata menggenapkan seratus (dengan mengucapkan) “La ilaha illalla hu wahdahu la syarika lahu lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syain qadi r “, maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih lautan”. (HSR. Muslim)

Hadits kedelapan : Hadits Sa’ad bin Abi Waqqa sh radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

ﺇِﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺘَﻌَﻮَّﺫُﻣِﻨْﻬُﻦَّ ﺩُﺑُﺮَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﺒْﻦِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَﺃَﻥْ ﺃُﺭَﺩَّ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺭْﺫَﻝِ ﺍﻟْﻌُﻤْﺮِ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam selalu berta’awwudz dibelakang sholat (dengan): “Allahumma inni a’u dzu bika minal jubn wa a’u dzu bika an uradda ila ardzalil ‘umur wa a’u dzu bika min fitnatid dunya wa a’udzu bika min ‘adzabil qabr” (Ya Allah saya berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan saya berlindung kepada-Mu untuk dikembalikan ke masa kanak-kanak (menjadi pikun) dan saya berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan saya berlindung kepada-Mu dari adzab kubur”. (HSR.Bukhary)

Hadits kesembilan : Hadits Mu’a dz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shollalla hu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata kepadanya :

ﺃُﻭْﺻِﻴْﻚَ ﻳَﺎ ﻣُﻌَﺎﺫُ ﻻَ ﺗَﺪَﻋَﻦَّ ﻓِﻲْ ﺩُﺑُﺮِ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ ﺗَﻘُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّﺃَﻋِﻨِّﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﺫِﻛْﺮِﻙِ ﻭَﺷُﻜْﺮِﻙَ ﻭَﺣُﺴْﻦِ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻚَ


“Saya wasiatkan kepadamu wahai Mu’a dz, janganlah kamu meninggalkan dibelakang setiap sholat perkataan :”Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika” (ya Allah bantulah saya dalam berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah kepada-Mu”. (Diriwayatkan oleh Abdu bin Humaid no. 120, Al-Bukha ry dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 690, Abu Daud no.1522, An-Nasa `i 3/53 dan dalam Al-Kubra 1/387, 6/42, Ibnu Khuzaimah no 751, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 2020-2021, Al-Ha kim 1/407, 3/307, Al-Baihaqy dalam Ash-Shughra 1/27 dan dalam Syu’abil Iman 4/99, Al-Bazza r no.2661, Ath-Thobara ny 20/no. 110, 218, 250 dan dalam Musnad Asy-Syamiyyi n no. 1650 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/241 dan dishohihkan oleh Syeikhuna Muqbil
dalam Al-Ja mi’ Ash-shohih)

Hadits kesepuluh : Hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

ﺃَﻣَﺮَﻧِﻲْ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْﺃَﻗْﺮَﺃَ ﺍﻟْﻤُﻌَﻮِّﺫَﺍﺕِ ﺩُﺑُﺮَ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memerintahkanku untuk membaca Al-Muawwidzat (yaitu surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas-pent.) dibelakang setiap sholat. ( HR. An-Nasa `i 3/68 dan dalam Al-Kubra 1/387, Ibnu Khuzaimah no.755, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no.2004, Al-Ha kim 1/383, Al-Baihaqy dalam Syu’abil Ima n 2/512-513 dan Ath-Thobara ny 17/no. 811-812 dan dishohihkan oleh Syeikh Al-Albany dalam Ta’liq Misykatul Mashobih no.959)

Hadits kesebelas : Hadits Abu ‘Uma mah Al-Ba hily, Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺁﻳَﺔَ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲَّ ﺩُﺑُﺮَ ﻛُﻞِّ ﺻَﻼَﺓٍ ﻣَﻜْﺘُﻮْﺑَﺔٍ ﻟَﻢْ ﻳَﺤُﻞْ ﺑَﻴْﻨَﻪُﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺩُﺧُﻮْﻝِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺇِﻻَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ 

“Siapa yang membaca ayat kursi (Al-Baqarah ayat 255-pent) dibelakang setiap sholat wajib, maka tidak ada yang memisahkannya dengan masuk surga kecuali mati”. (Dishohihkan oleh syaikh Al-Albany rahimahullah dalam Ash-Shohi hah no. 972). Lihat : Al-Adzka r 1/200-212 tahqiq Salim Al-Hila ly, Ash-shohi h Al-Musnad min Adzkaril Yaum Wal-Lailah hal.78-86 , Bahjatun Na zhirin 2/498-503 , Al-Futu hat Ar-Rabbaniyyah 3/27-63 , Majmu ‘ Al-Fatawa 22/492-493, 508-510 dan Zadul Ma’a d 1/295-305,3/27-63.


Jawaban Pertanyaan Kedua :

Sutrah adalah pembatas yang diletakkan didepan orang yang sholat guna membatasi dirinya dengan orang yang berlalu. Dan sutrah hukumnya wajib dan insya Allah pembahasan tentang hukum-hukum seputar sutrah akan dimuat dalam volume-volume yang akan datang dalam risalah ilmiyah tercinta ini.
Adapun berapa jauh jaraknya seseorang bisa lewat didepan orang yang sedang sholat kalau orang tersebut tidak memakai sutrah , dapat kita simak pada hadits-hadits dari Rasulullah shollalla hu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berikut ini :

ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻳُﺼَﻠِّﻲْ ﻓَﻼَ ﻳَﺪَﻋَﻦَّ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻳَﻤُﺮُّ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻟْﻴَﺪْﺭَﺃْﻩُﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺑَﻰ ﻓَﻠْﻴُﻘَﺎﺗِﻠْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ


“Apabila salah seorang dari kalian sholat maka jangan ia membiarkan seorangpun berlalu dihadapannya dan hendaklah ia menolaknya semampunya dan apabila ia tidak mau, maka hendaknya ia menahannya dengan keras, sesungguhnya dia itu tidak lain adalah syaithon”. (HSR.Bukhary-Muslim dari Abu Sa’id Al-khudry dan semakna dengannya dari Ibnu ‘Umar riwayat Muslim).

ﻟَﻮْ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻤَﺎﺭُّ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱْ ﺍﻟْﻤُﺼَﻠِّﻲْ ﻣَﺎﺫَﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﺃَﻥْ ﻳَﻘِﻒَﺃَﺭْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﻳَﻤُﺮَّ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ. ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮْ ﺍﻟﻨَّﻀْﺮِ - ﺃَﺣَﺪُﺍﻟﺮُّﻭَﺍﺓِ - : ﻻَ ﺃَﺩْﺭِﻱْ ﺃَﻗَﺎﻝَ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﺃَﻭْ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﺳَﻨَﺔً.


“Andaikata orang yang berlalu didepan orang sholat mengetahui apa yang ditimpakan atasnya (dari dosa-pent.) maka jika ia berhenti empat puluh, lebih baik baginya dari berlalu didepannya”. Berkata Abun Nadhor –  salah seorang  rawi- saya tidak tahu apakah ia berkata 40 hari, 40 bulan atau 40 tahun.( HSR. Bukhary-Muslim dari Abu Juhaim radhiyallahu ‘anhu ) dan banyak lagi hadits yang semakna dengannya.

Dan kalimat ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱْ (dihadapannya) dalam hadits, diterangkan oleh Al-Ha fizh Ibnu hajar dalam Fathul Bary 1/585 : “yaitu didepannya dari jarak dekat”. Maka dari sini diketahui bahwa apabila ada orang yang sholat tidak menghadap ke sutrah (pembatas), maka ia hanya terlarang berlalu dihadapannya dalam jarak jangkauan kedua tangan dimana sebagian ulama
mengatakan jarak sejauh tiga hasta (satu hasta adalah antara ujung jari tengah sampai siku).


Berkata syaikh Ibnu Bazz dalam ta’liq beliau terhadap Fathul Ba ry 1/582 :
“Kapan orang yang berlalu jauh dari hadapan orang yang sholat yang tidak meletakkan sutrah didepannya, maka ia telah selamat dari dosa, karena apabila ia telah jauh darinya menurut kebiasaan anggapan orang, maka tidaklah ia dinamakan orang yang berlalu dihadapannya dan ini sama halnya dengan orang berlalu dari belakang sutrah“.

[1] Berkata Ibnu ‘Alla n dalam Al-Futu hu t Ar-Rabba niyah 3/33: “yaitu Yang Maha Selamat dari perubahan dan afat (penyakit/kerusakan) atau (Yang Maha) Pemberi keselamatan bagi siapa yang Engkau kehendaki”.
Sumber : Majalah An-Nashihah Vol. 5
  • (www.an-nashihah.com )

Minggu, 02 Februari 2014

BERAPA MASALAH BERKAITAN DENGAN SHOLAT BERJAMA'AH


1. Dalam sholat berjama’ah mana yang lebih utama untuk dikerjakan oleh makmum, sholatnya (kaifiyatnya) sama dengan sholatnya imam atau sholatnnya sesuai dengan sunnah yang dia ketahui walaupun kaifiyatnya berbeda dengan kaifiyat sholatnya imam ?

2. Dalam sholat jama’ah yang bacaannya dikeraskan, mana yang lebih utama dikerjakan oleh makmum, dia membaca Al-Fatihah saat imam membaca surah lainnya atau menyimak saja (tidak membaca apa-apa sesuai dengan QS.Al-A’raf :204 ).

3. Apakah ada dalil/riwayat yang shohih untuk perbuatan makmum yang mengoreksi bacaan imam yang salah ?.

4. Mengenai shaum sunnah, apakah boleh melakukan shaum Ayyamul Bidh (tgl;13,14 dan15) berdasarkan kalender Hijriah yang sudah dicetak untuk setahun (berdasar Hisab) ?.

Jawab :

Berikut ini jawaban dari pertanyaan di atas secara berurut sesuai dengan urutan pertanyaan :

Satu : Dasar pegangan dalam masalah ini adalah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang berbunyi :

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺟُﻌِﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﻟِﻴُﺆْﺗَﻢَّ ﺑِﻪِ

“Sesungguhnya dijadikannya imam hanyalah untuk diikuti”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Anas bin Malik, riwayat Al-Bukhary dari ‘Aisyah dan riwayat Muslim dari Abu Musa)

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺟُﻌِﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﻟِﻴُﺆْﺗَﻢَّ ﺑِﻪِ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺨْﺘَﻠِﻔُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

“Sesungguhnya dijadikannya imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih terhadapnya”.
Menurut Imam Nawawy, hadits di atas berkaitan dengan amalan-amalan yang zhohir (nampak) dilakukan oleh imam karena itulah disebutkan rukuk dan selainnya sebagai contoh mengikuti gerakan imam. Namum tentunya hadits di atas tidaklah berlaku secara umum,sebab dimaklumi bersama bahwa ada beberapa amalan imam yang makmun tidak mengikutinya seperti ketika imam membaca Sami’allahu liman hamidah maka makmun membaca Rabbana wa lakal hamdu, dan lain-lainnya.
Demikian pula kewajiban mengikuti imam dalam hadits di atas dikhususkan oleh hadits Malik bin Al-Huwairits riwayat Al-Bukhary , dimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮْﻧِﻲْ ﺃُﺻَﻠِّﻲْ

“Shalatlah kalian sebagai kalian melihatku melakukan sholat”. Maka berdasarkan hadits ini seseorang melakukan sholat menurut apa yang ia yakini bahwa itu adalah tuntunan sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam walaupun berbeda dengan imam.
Seperti kalau imam melakukan qunut shubuh maka hal tersebut tidak boleh diikuti karena qqunut shubuh adalah bid’ah dan bertentangan dengan tuntunan sholat Nabi shollallahu 'alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sehingga seharusnya ia melakukan sholat sebagaimana dengan tuntunan sholat Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang ia yakini yaitu tidak ikut qunut bersama imam.
Demikian pula misalnya bila imam berpendapat bahwa pada saat I’tidal seorang yang sholat kembali bersedekap maka makmun yang berkeyakinan bahwa pada saat I’tidal tidak sedekap maka ia I’tidal dengan tidak sedekap sesuai dengan keyakinannya. Wallahu A’lam .

Dua : Pendapat yang paling kuat dalam masalah apakah makmun tetap membaca Al-Fatihah atau hanya sekedar menyimak di belakang imam ketika sholat yang bacaannya dikeraskan adalah tetap membaca Al- fatihah. Dan insya Allah pembahasan terperinci tentang hal ini akan diuraikan dalam majalah An Nashihah ini pada waktu mendatang.

Tiga : Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin Abil ‘Ainain dalam kitab beliau yang berjudul As-Sirajul Mubin fiAhkami Shalatil Jama’ah wal Imami wal Ma`mumin hal. 81-84 membahas masalah tersebut dengan baik. Dan kesimpulannya bahwa membetulkan bacaan Imam yang salah atau mengingatkan ayat-ayat yang terlupa atau tertinggal merupakan perkara yang disunnahkan menurut pendapat kebanyakan ulama. Pendapat tersebut dihikayatkan oleh Ibnul Mundzir dari ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Tholib, Ibnu ‘Umar, ‘Atho`, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Ibnu Ma’qil, Nafi’ bin Jubair, Abu Asma` Ar-Rahaby, Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad dan Ishaq. Dan Syaikh Ahmad menyebutkan beberapa dalil tentang hal tersebut,
diantaranya adalah :
Hadits riwayat Ahmad 5/123, Al-Bukhary dalam Juz`ul Qira`ah (192) dan Ibnu Khuzaimah (1647) dari Ubaiy bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

ﺻَﻠَّﻰ ﺑِﻨَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮَﻭَﺗَﺮَﻙَ ﺁﻳَﺔًَ ﻓَﺠَﺎﺀَ ﺃُﺑِﻲُّ ﻭَﻗَﺪْ ﻓَﺎﺗَﻪُ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍﻧْﺼَﺮَﻑَﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻧُﺴِﺨَﺖْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔُ ﺃَﻭْ ﺃُﻧْﺴِﻴْﺘَﻬَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎ ﺑَﻞْﺃُﻧْﺴِﻴْﺘُﻬَﺎ

“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat subuh (mengimami) kami dan beliau meninggalkan satu ayat. Lalu datanglah Ubaiy dan beliau telah luput sebagaian sholat. Maka tatkala (Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) telah selasai maka (Ubaiy) berkata : wahai Rasulullah, apakah ayat ini telah dihapus atau engkau dibuat melupakannya?. Beliau menjawab :
Tidak, bahkan aku dibuat melupakannya”. Dan diriwayatkan oleh Abu Daud dan ibnu Hibban dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma , beliau berkata :

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﻠَّﻰ ﺻَﻠَﺎﺓًﻓَﻘَﺮَﺃَ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻓَﻠُﺒِّﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍﻧْﺼَﺮَﻑَ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺄُﺑَﻲِّ ﺃَﺻَﻠَّﻴْﺖَﻣَﻌَﻨَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢْ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻤَﺎ ﻣَﻨَﻌَﻚَ

“Sesungguhnya Nabi shollallahu 'alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan suatu sholat lalu beliau membaca dan tersamarkan bagi beliau. Maka setelah beliau selesai, beliau berkata kepada Ubaiy : Apakah engkau sholat bersama kami? Ia menjawab : Iya. Maka beliau bersabda : apa yang menahan kamu (untuk mengingatkan yang tersemar tersebut,-pent.)” . (Hadits ini menurut Abu Hatim Mursal, namun Syaikh Ahmad menyebut beberapa jalan yang menguatkannya).
Wallahu Ta’ala A’lam .

Empat : penentuan masuknya bulan dalam syari’at Islam hanya dengan cara rukyat hilal. Karena itu penentuannya dengan menggunakan hisab adalah bid’ah yg tidak pernah dilakukan oleh Nabi & shohabatnya serta org-org ymengikuti mereka dengan baik dan Juga penentuaan dengan hisab itu bertentangan dengan hadits-hadits shohih yang menerangkan penetuan masuknya bulan dengan cara rukyat hilal. Berdasarkan hal ini maka tidak boleh melakukan puasa dengan penentuan hisab. Wallahu A’lam .
Sumber : Risalah Ilmiyyah An-Nashihah, Pertanyaan (www.an-nashihah.com )



CARA SHOLAT TAUBAT



Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi


Pertanyaan :

    Apakah ada tuntunan tentang sholat taubat dan bagaimana cara pelaksanaannya?.


Jawab :


Berikut ini uraian beberapa hadits yang berkaitan dengan sholat taubat beserta penjelasan derajat hadits-hadits tersebut.


       Hadits Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu Dari ‘Ali bin Abi Tho lib radhiyallahu ‘anhu dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : saya mendengar Rasulullah 
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺭَﺟُﻞٍ ﻳَﺬْﻧَﺐُ ﺫَﻧْﺒًﺎ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘُﻮْﻡُ ﻓَﻴَﺘَﻄَﻬَّﺮُ ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠِّﻲْ ) ﻓِﻲْﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ : ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠِّﻲْ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ( ﺛُﻢَّ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُﺛُﻢَ ﻗَﺮَﺃَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔَ }ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔً ﺃَﻭْ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﺫَﻛَﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔَﺮُﻭﺍ ﻟِﺬُﻧُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏَﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺼِﺮُّﻭﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ }


“Tidak seorangpun melakukan suatu dosa lalu ia bangkit untuk berthoharah lalu sholat (Dalam satu riwayat : kemudian dia sholat dua raka’at) kemudian memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan mengampuninya. Lalu beliau membaca ayat ini (Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu 
memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui)”.

Dikeluarkan oleh : Ibnu Abi Syaibah 2/159/7642, Ahmad 1/2, 8 dan 10 dan dalam Fadho `il Ash-Shoha bah no. 142 dan 642, Al-Humaidy 1/2 dan 4, Ath-Thoya lisy no. 1, Abu Daud 2/86/1521, At-Tirmidzy 2/257/406 dan 5/228/3006, An-Nasa `i dalam Al-
Kubra 6/109/10247, 6/110/10250 dan 6/315/11078 dan dalam Amalul Yaum wal Lailah no. 414 dan 417, Ibnu Majah 1/446/1395, Husain bin Hasan Al-Marwazy dalam Zawa `iduz Zuhd no. 1088, Ibnu Jari r dalam tafsirnya 4/96, Abu Ya’la no.1 dan 11-15, Ibnu Hibban 2/389-390/623 - Al-Ihsa n -, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman 5/401-402/7077-7078, Dhiya` Al- Maqdasy dalam Al Mukhtaroh 1/82-86/7-11 dan Ibnu ‘Ady dalam Al-Ka mil 1/430. Semuanya dari jalan ‘Utsman bin Al-Mughiroh dari ‘Ali bin Rabi ’ah dari Asma ` bin Al-Hakam dari Ali bin Abi Tho lib….
Dihasankan oleh Ad-Dzahaby dalam Tadzkiratul Huffa zh 1/11 dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Dan berkata Ibnu ‘Adi setelah menyebutkan dua jalan bagi hadits

diatas : “Hadits ini jalannya hasan dan saya berharap ia adalah shohih”.
  Dan Imam Ad-Daraquthny dalam ‘Ilal-nya 1/176-180 menyebutkan beberapa perselisihan tentang hadits di atas lalu beliau menegaskan bahwa jalan ‘Utsman bin Al-Mughi rah yang paling baik sanadnya dan paling Shohih .
Dan berkata Al-Ha fizh Ibnu Hajar tentang hadits di atas dalam biografi Asma ` bin Al-Hakam dari Tahdzi but Tahdzib : “ Jayyidul Isnad (Baik sanadnya)”.

Dan juga dishohihkan oleh Syaikh Al- Albany dalam Shohih At Targhib Wat Tarhib 1/427/680. Dan ‘Utsma n bin Al-Mughi rah ada mutaba’ah (penguat/pendukung) dari Mu’awiyah bin Abil ‘Abbas sebagaimana dalam riwayat Ath- Thobara ny di Mu’jamul Ausath 1/185/584, Abu Bakr Al-Isma ’ily dalam Mu’jam Syuyu kh-nya 2/697 dan Al-Khothib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwam Al-Jam’iwat Tafriq 2/490.


        Hadits Abu Darda ` radhiyalla hu ‘anhu Dari Abu Darda ` radhiyalla hu ‘anhu, beliau berkata : saya mendengar Rasulullah shollalla hu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :


ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳَﺬْﻧَﺐُ ﺫَﻧْﺒًﺎ ﻓَﻴَﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠِّﻲْ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺃَﺭْﺑَﻌًﺎﻣَﻔْﺮُﻭْﺿَﺔً ﺃَﻭْ ﻏَﻴْﺮَ ﻣَﻔْﺮُﻭْﺿَﺔٍ ﺛُﻢَّ ﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ


“Tidak seorang muslimpun melakukan dosa lalu ia berwudhu kemudian sholat dua atau empat raka’at, wajib maupun selain wajib kemudian ia memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan mengampuninya". 


Dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘A shim dalam Al-A ha d Wal Matsa ny 4/83/2040 dan Ath-Thobara ny dalam Mu’jamul Ausath 5/186/5026 dan konteks di atas dari riwayatnya melalui jalan Abu Sahl Shodaqoh bin Abi Sahl Al-Hunna `i dari Katsir bin Yasar Abul Fadhl dari Yu suf bin Abdillah bin Salla m dari Abu Darda `. 


Pembahasan 


Berkata Ath-Thobara ny rahimahullah : Shodaqoh bin Abi Sahl bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini. Dan Al Haitsamy dalam Majma’uz  Zawa`id 1/301 menyatakan hal yang 
sama lalu berkomentar tentang Shodaqah : “Saya tidak menemukan yang menyebutkannya”.

Demikian perkataan beliau, padahal biografi Shodaqah ada dalam At-Tari kh Al-Kabi r 2/2/297 karya Al-Bukhary dan Ta’jilul Manfa’ah hal.185-186 karya Ibnu Hajr. Dan tidak disebut pada Shodaqoh ini pujian maupun celaan berarti ia adalah Majhul Ha l (tidak dikenal keadaannya).

Maka hadits di atas adalah lemah.

Tapi ia adalah syahid (pendukung) yang sangat kuat bagi hadits Abu Bakr walaupun ada perbedaan lafazh.

Hadits Abu Dzar Al-Ghifary radhiyalla hu ‘anhu Dari Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah shollalla hu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam :

ﻗُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲْ ﻟِﻠْﻤُﺬْﻧِﺐِ ﺃَﻥْ ﻳَﺘُﻮْﺏَ ﻣِﻦَﺍﻟﺬُّﻧُﻮْﺏِ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻨَﺘَﻴْﻦِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮِ ﻭَﻳُﺼَﻠِّﻲْﺍﺛْﻨَﺘَﻲْ ﻋَﺸَﺮَﺓَ ﺭَﻛْﻌَﺔً ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﻓِﻲْ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ,ﻭَﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ ﻣَﺮَّﺓً, ﻭَﻋَﺸَﺮَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪُﺃَﺣَﺪٌ , ﺛُﻢَّ ﻳَﻘُﻮْﻡُ ﻭَﻳُﺼَﻠِّﻲْ ﺃَﺭْﺑَﻊَ ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ, ﻭَﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﻭَﻳَﺴْﺠُﺪُ , ﻭَﻳَﻘْﺮَﺃُ ﻓِﻲْ ﺳُﺠُﻮْﺩِﻩِ ﺃَﻳَﺔَ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲِّ ﻣَﺮَّﺓً, ﺛُﻢَّ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ,ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﻣَﺮَّﺓٍ , ﻭَﻳُﺼَﻠِّﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﻣَﺮَّﺓٍ, ﻭَﻳَﻘُﻮْﻝُ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﻣَﺮَّﺓٍ : ﻟَﺎ ﺣَﻮْﻝَﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ , ﻭَﻳُﺼْﺒِﺢُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺪِ ﺻَﺎﺋِﻤًﺎ, ﻭَﻳُﺼَﻠِّﻲْ ﻋِﻨْﺪَﺇِﻓْﻄَﺎﺭِﻩِ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ , ﻭَﺧَﻤْﺲَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ : ) ﻗُﻞْ ﻫُﻮَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ( ﻭَﻳَﻘُﻮْﻝُ : ﻳَﺎ ﻣُﻘَﻠِّﺐَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮْﺏِ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺗَﻮْﺑَﺘِﻲْ ﻛَﻤَﺎﺗَﻘَﺒَّﻠْﺖَ ﻣِﻦْ ﻧَﺒِﻴِّﻚَ ﺩَﺍﻭُﺩَ, ﺍﻋْﺼِﻤْﻨِﻲْ ﻛَﻤَﺎ ﻋَﺼَﻤْﺖَ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦَﺯَﻛَﺮِﻳَّﺎ , ﻭَﺃَﺻْﻠِﺤْﻨِﻲْ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﺻْﻠَﺤْﺖَ ﺃُﻭْﻟَﻴَﺎﺋَﻚَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ, ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّﺇِﻧِّﻲْ ﻧَﺎﺩِﻡٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠْﺖُ , ﻓَﺎﻋْﺼِﻤْﻨِﻲْ ﺣَﺘَّﻰ ﻟَﺎ ﺃُﻋْﺼِﻴَﻚَ , ﺛُﻢَّﻳَﻘُﻮْﻡُ ﻧَﺎﺩِﻣًﺎ, ﻓَﺈِِﻥَّ ﺭَﺃْﺱَ ﻣَﺎﻝِ ﺍﻟﺘَّﺎﺋِﺐِ ﺍﻟﻨَّﺪَﺍﻣَﺔُ, ﻓَﻤَﻦْ ﻓَﻌَﻞَ ﺫَﻟِﻚَﻳَﻘْﺒَﻞُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻮْﺑَﺘَﻪُ ﻭَﻗَﻀَﻰ ﺣَﻮَﺍﺋِﺠَﻪُ, ﻭَﻳَﻘُﻮْﻡُ ﻣِﻦْ ﻣَﻘَﺎﻣِﻪِ ﻭَﻗَﺪْﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮْﺏَ ﻛَﻤَﺎ ﻏَﻔَﺮَ ﻟِﺪَﺍﻭَﺩُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ , ﻭَﺑَﻌَﺚَ ﺍﻟﻠﻪُﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺃَﻟْﻒَ ﻣَﻠَﻚٍ ﻳَﺤْﻔَﻈُﻮْﻧَﻪُ ﻣِﻦْ ﺇِﺑْﻠِﻴْﺲَ ﻭَﺟُﻨُﻮْﺩِﻩِ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻔَﺎﺭِﻕَﺍﻟﺮُﻭْﺡُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮَﻯ ﻣَﻜَﺎﻧَﻪُ ﻣِﻦَﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ , ﻭَﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺭُﻭْﺣَﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺭَﺍﺽٍ, ﻭَﻳُﻐَﺴِّﻠُﻪُ ﺟِﺒْﺮِﻳْﻞُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ ﻣَﻊَ ﺛَﻤَﺎﻧِﻴْﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ﻣَﻠَﻚٍ , ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻭْﻥَ ﻟَﻪُ,ﻭَﻳَﻜْﺘُﺒُﻮْﻥَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ, ﻭَﻳُﺒَﺸِّﺮُﻩُ ﻣُﻨْﻜَﺮٌﻭَﻧَﻜِﻴْﺮٌ ﺑِﺎﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﻓَﺘَﺢَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻲْ ﻗَﺒْﺮِﻩِ ﺑَﺎﺑَﻴْﻦِ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ , ﻭَﻳَﺪْﺧَﻞُﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ, ﻭَﻳُﺠَﺎﻭِﺭُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦَ ﺯَﻛَﺮِﻳَّﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ.


“Wahai Rasulullah, bagaimana seharusnya orang yang berdosa bertaubat dari dosa-dosanya?. Beliau menjawab : “Ia mandi pada malam senin setelah witir dan sholat dua belas raka’at, ia baca pada setiap raka’at surah Al-Fatihah dan Qul yaa ayyuhal kaafirun satu kali sepuluh kali Qul Huwallahu Ahad lalu ia berdiri dan sholat empat raka’at kemudian salam lalu sujud dan membaca dalam sujudnya ayat Kursi satu kali lalu mengangkat kepalanya dan Istighfar seratus kali, membaca sholawat seratus kali serta membaca seratus kali ; Laa haula wa laa quwwata illa billah. Dan dibesok paginya ia berpuasa dan ketika berbuka ia sholat dua raka’at dengan (membaca) Al-Fatihah dan lima kali Qul Huwallahu Ahad dan berdoa :

Wahai yang membolak-balikan hati, terimalah taubatku sebagaimana Engkau menerimanya dari nabi-Mu Daud, jagalah saya sebagaimana
Engkau telah menjaga Yahya bin Zakariya, dan perbaikilah saya
sebagaimana Engkau telah memperbaiki para wali-Mu yang
sholih, Ya Allah, sesungguhnya saya menyesali apa yang telah saya perbuat maka jagalah saya sehingga saya tidak bermaksiat kepada-Mu.

  Lalu ia berdiri dalam keadaan menyesal dan modal orang yang

bertaubat adalah penyesalan. Siapa yang mengerjakan hal tersebut maka Allah akan menerima taubatnya dan menunaikan hajatnya dan ia berdiri dari tempatnya sedang Allah telah mengampuninya sebagaimana (Allah) telah mengampuni Daud
‘alaihissalam, Allah mengirim kepadanya seribu malaikat menjaganya dari iblis dan bala tentaranya sampai ruhnya berpisah dengan jasadnya, tidaklah ia keluar dari dunia sampai ia melihat tempatnya di Sorga, Allah mencabut ruhnya dan Allah Ridho kepadanya, Jibril ‘alaihissalm bersama delapan puluh ribu malaikat akan memandikannya, memintakan ampun untuknya, menulis untuknya berbagai kebaikan sampai hari kiamat, Munkar
dan Nakir akan memberinya kabar gembira dengan Sorga, Allah bukakan dalam kuburnya dua pintu sorga, dia akan masuk sorga tanpa hisab dan ia akan berdekatan dengan Yahya bin Zakariya”.”.

Dikeluarkan oleh Ibnul Jauzy dalam Al-Maudhu’at no. 1020 (Cet.Adhwa` As-Salaf).


Pembahasan


Berkata Ibnul Jauzy setelah meriwayatkan hadits di atas : “Ini adalah hadits palsu sama sekali tidak diucapkan oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan tidaklah diriwayatkan oleh Abu Dzar dan tidak pula Zaid bin Wahb dan dalam sanadnya ada (rawi-rawi) majhu l (tidak dikenal) dan orang yang memalsukannya telah berbuat bid’ah dan kelancangan terhadap syari’at dengan hal-hal yang dingin (baca : keji).


Berkata Abu ‘Amir Al-Hafizh :

“ini adalah hadits BATIL MUNGKAR tidak ada pendukung bagi rawinya”.
Dan penekanan letak pemalsuan adalah pada orang yang berada dibawa Jarir”.

Jalan Mursal


Dari Al-Hasan Al-Bashry rahimahullah beliau berkata :

Rasulullah shollalla hu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

ﻣَﺎ ﺃَﺫْﻧَﺐَ ﻋَﺒْﺪٌ ﺫَﻧْﺒًﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻮَﺿَّﺄ ﻓَﺄَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮْﺀَ ﺛُﻢَّ ﺧَﺮَﺝَ ﺇِﻟَﻰﺑَﺮَﺍﺯٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻓَﺼَﻠَّﻰ ﻓِﻴْﻪِ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَﺍﻟﺬَّﻧْﺐِ ﺇِﻟَّﺎ ﻏَﻔَﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ


“Tidak seorang hambapun berbuat dosa lalu ia berwadhu dan memperbaik wudhunya kemudian keluar ke tanah lapang lalu sholat padanya dua raka’at dan memohon ampun kepada Allah dari dosa itu kecuali Allah memberi ampun untuknya”.

Dikeluarkan Oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman 5/403/7081 dari jalan Ahmad bin ‘Abdul Jabbar Al-‘Uthoridy dari Hafsh bin Ghiyats dari ‘Asy’ats bin ‘Abdul Malik dari Al-Hasan….

Pembahasan


Hadits ini adalah Mursal (si perawi lansung meriwayatkan dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sedang ia tidak berjumpa dengan beliau) dan hadits Mursal di kalangan Ahli hadits adalah hadits lemah.

  Dan hadits Mursal ini semakin lemah karena Ahmad bin ‘Abdul
Jabba r dho’i ful hadi ts (lemah haditsnya).

Kesimpulan


Dari uraian di atas bisa ditarik beberapa kesimpulan :


1. Jalan yang kuat dalam sholat taubat hanya hadits Abu Bakr radhiyallahu 'anhu.


2. Bentuk pelaksanaannya ; berwudhu dengan baik lalu sholat dua raka’at kemudian setelah itu Istigfar (memohon pengampunan) kepada Allah.


3. Karena tidak ada tuntunan khusus tentang bagaimana sholat dua raka’at itu maka asalnya sama dengan sholat sunnah lainnya.


4. Tidak ada riwayat yang shohih yang menunjukkan bacaan surah setelah Al-Fa tihah pada dua raka’at tersebut maka asalnya boleh membaca apa saja dari surah yang mudah baginya.


5. Berkata Al-Muba rakfu ry dalam Tuhfatul Ahwadzy 2/368 (Cet.Darul Kutub) : “Yang diinginkan dengan Istighfar adalah bertaubat disertai penyesalan, meninggalkan (dosa tersebut), ber-‘Azm (berniat dengan sungguh-sungguh) untuk tidak mengulanginya selama-lamanya dan mengembalikan hak-hak (orang lain) kalau memang hal tersebut terjadi”.


Wallahu Ta’a la A’lam wa Ahkam.


Sumber : Majalah An-Nashihah Vol.6 Rubrik Masalah Anda 
( www.an-nashihah.com )

















HUKUM DAN KEDUDUKAN HADITS QUNUT SUBUH


))Oleh : Ustadz Dzulqarnain

Pertanyaan :
Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid’ah.
Bagaimanakah hukum qunut Shubuh Sebenarnya ?

Jawab :
Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur’an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu Tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩ .ٌّ ﻭَ ﻓِﻲْﺭِﻭَﺍﻳَﺔِ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ : )) ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣُﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩَّ

“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak”. Dan dalam riwayat Muslim : “Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak”.
Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama. Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

Uraian Pendapat Para Ulama Ada Tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.

Pendapat Pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.

Pendapat Kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansu kh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain- lainnya dari ulama Kufah.

Pendapat Ketiga : Qunut pada Sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.

Dalil Pendapat Pertama

Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :

ﻣَﺎ ﺯَﺍﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘْﻨُﺖُ ﻓِﻲْﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻐَﺪَﺍﺓِ ﺣَﺘَّﻰ ﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ

“Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia”. Dikeluarkan oleh 'Abdurrozza q dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoha wy dalam Syarah Ma’ani Al A tsa r 1/244, Ibnu Sya hin dalam Na sikhul Hadits Wamansu khih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Ro yah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Da ruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhta roh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghda dy dalam Mu dhih Auwa n Al Jama’ wat Tafriq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunu t sebagaimana dalam At-Tahqi q 1/463.
Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Ro zy dari Ar-Robi ’ bin Anas dari Anas bin Malik. Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Muni r 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkuma ny dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkan-nya dari Ar-Robi ’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)”. Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa `i : “ Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”. Berkata Abu Zur’ah : “ Yahimu katsiran (Banyak salahnya)”. Berkata Al-Falla s : “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)”.
Dan berkata Ibnu Hibba n : “Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.” Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’a d jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Ro zy, beliau berkata : “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-Ro zy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya”. Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu
Ja’far Ar-Ro zy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : “ Shodu qun sayi`ul hifzh khususon ‘anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah). Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar. Dihukuminya hadits ini sebagai hadits
yang mungkar karena 2 sebab :

Satu : Makna yang ditunjukkan oleh Hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah , sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻻَ ﻳَﻘْﻨُﺖُ ﺇِﻻَّ ﺇِﺫَﺍﺩَﻋَﺎ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻡٍ
“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)” . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.

Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Ro zy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﻨَﺖَ ﻓٍﻲ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ

“Sesungguhnya Nabi shollahu ‘alahiwa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh”.Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam AlMaqdasy dalam Al Mukhta rah 6/129. Kemudian sebagian para ‘ulama syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka marikita melihat jalan-jalan tersebut :

Jalan Pertama :Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata:

ﻗَﻨَﺖَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺃَﺑُﻮْ ﺑَﻜْﺮٍﻭَﻋُﻤْﺮَ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﻭَﺃَﺣْﺴِﺒُﻪُ ﻭَﺭَﺍﺑِﻊٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻓَﺎﺭَﻗْﺘُﻬُﻢْ

“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi waalihi wa Sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan‘Utsman, dan saya (rawi) menyangka“dan keempat” sampai saya berpisah dengan mereka”. Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :

Pertama : ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’a ni Al Atsa r 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, AlKhatib dalam Al Qunut dan darijalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqi qno.693 dan Adz-Dzahaby dalamTadzkiroh Al Huffa zh 2/494. Dan‘Amru bin ‘Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).

Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma’i l ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.

Catatan :

Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihro n, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’i d, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari AlHasan dari Anas beliau berkata :

ﺻَﻠَّﻴْﺖُ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺰَﻝْﻳَﻘْﻨُﺖُ ﻓِﻲْ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻐَﺪَﺍﺓِ ﺣَﺘَّﻰ ﻓَﺎﺭَﻗْﺘُﻪُ

“Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau”. Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Miza nul I’tida l 1/418. Karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari ‘Amru bin ‘Ubeid sebagaimana dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.

Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da’laj dari Qotadah dari Anas bin Malik :

ﺻَﻠَّﻴْﺖُ ﺧَﻠْﻒَ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺧَﻠْﻒَﻋُﻤَﺮَ ﻓَﻘَﻨَﺖَ ﻭَﺧَﻠْﻒَ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﻓَﻘَﻨَﺖَ

“Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang ‘umar lalu beliau qunut dan dibelakang ‘Utsman lalu beliau qunut”. Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Na sikhul Hadits wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : “Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in danAd-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorang pun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Miza n , Ad-Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk. Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya “Terus-menerus beliau qunut pada sholatSubuh hingga beliau meninggalkandunia”, itu tidak terdapat dalamhadits Khalid. Yang ada hanyalah“beliau (nabi) ‘alaihis Salam qunut”,dan ini adalah perkara yang ma’ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)”.

Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin ‘Abdillah dari Anas bin Malik :

ﻣَﺎ ﺯَﺍﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘْﻨُﺖُ ﻓِﻲْﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﺼُﺒْﺢِ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﺎﺕَ

“Terus-menerus Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal”. Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam AlQunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzydalam At-Tahqi q no. 695. Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin‘Abdillah, kata Ibnu ‘Ady : “ Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya”.

Kesimpulan pendapat pertama: Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. 

Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.

1. Doa
2. Khusyu’
3. Ibadah
4. Taat
5. Menjalankan ketaatan.
6. Penetapan ibadah kepada Allah
7. Diam
8. Shalat
9. Berdiri
10. Lamanya berdiri
11. Terus menerus dalam ketaatan Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al- Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.

Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.

Dalil Pendapat Kedua
Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :
-
ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮْﻝُ ﺣِﻴْﻦَﻳَﻔْﺮَﻍُ ﻣِﻦْ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟﻔَﺠْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘِﺮَﺍﺀَﺓِ ﻭَﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﻭَﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﺳَﻤِﻊَﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﻤِﺪَﻩُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘُﻮْﻝُ ﻭَﻫُﻮَ ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّﺃَﻧْﺞِ ﺍَﻟْﻮَﻟِﻴْﺪَ ﺑْﻦَ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴْﺪِ ﻭَﺳَﻠَﻤَﺔَ ﺑْﻦَ ﻫِﺸَﺎﻡٍ ﻭَﻋَﻴَّﺎﺵَ ﺑْﻦَ ﺃَﺑِﻲْﺭَﺑِﻴْﻌَﺔَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻀْﻌَﻔِﻴْﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺷْﺪُﺩْ ﻭَﻃْﺄَﺗَﻚَ ﻋَﻠَﻰﻣُﻀَﺮَ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻛَﺴِﻨِﻲْ ﻳُﻮْﺳُﻒَ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻟْﻌَﻦْ ﻟِﺤْﻴَﺎﻥَﻭَﺭِﻋْﻼً ﻭَﺫَﻛْﻮَﺍﻥَ ﻭَﻋُﺼَﻴَّﺔَ ﻋَﺼَﺖِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﺛُﻢَّ ﺑَﻠَﻐَﻨَﺎ ﺃَﻧَﻪُﺗَﺮَﻙَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻤَّﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ : )) ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻣْﺮِ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃَﻭْ ﻳَﺘُﻮْﺏَﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺃَﻭْ ﻳُﻌَﺬِّﺑَﻬُﻢْ ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻢْ ﻇَﺎﻟِﻤُﻮْﻥَ ))

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) dishalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I’tidal) berkata : “Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. “Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasybin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu,Dzakwan dan ‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (HSR.Bukhary-Muslim) Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :

Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya,sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.

Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary–Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :

ﻭَﺍﻟﻠﻪِ ﻟَﺄَﻗْﺮَﺑَﻦَّ ﺑِﻜُﻢْ ﺻَﻼَﺓَ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺁﻟِﻪِﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺃَﺑُﻮْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻳَﻘْﻨُﺖُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻈُّﻬْﺮِ ﻭَﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِﻭَﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﺼُﺒْﺢِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﻳَﻠْﻌَﻦُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ .

Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : “Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu`alaihi wa alihi wa sallam. Maka AbuHurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya’ dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir”. Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansukh . Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi waalihi wa sallam dengan qunut nazi lah .

Dalil Pendapat Ketiga

Satu : Hadits Sa’ad bin Tho riq bin Asyam Al-Asyja’i

ﻗُﻠْﺖُ ﻷَﺑِﻲْ : “ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺖِ ﺇِﻧَّﻚَ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﺧَﻠْﻒَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭَﺃَﺑِﻲْ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﻭَﻋَﻠِﻲَﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻫَﻬُﻨَﺎ ﻭَﺑِﺎﻟْﻜُﻮْﻓَﺔِ ﺧَﻤْﺲَ ﺳِﻨِﻴْﻦَ ﻓَﻜَﺎﻧُﻮْﺍ ﺑَﻘْﻨُﺘُﻮْﻥَﻓﻲِ ﺍﻟﻔَﺠْﺮِ” ﻓَﻘَﺎﻝَ : “ﺃَﻱْ ﺑَﻨِﻲْ ﻣُﺤْﺪَﺙٌ ”.

“Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau sholat dibelakang Rasulullah shallallahu`alaihi wa alihi wa sallam dan dibelakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyalla hu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa `i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242,Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoyalisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf  2/101 no.6961,Ath-Thoha wy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsa n no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqi q no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kama l dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohi h Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shohihain .

Dua : Hadits Ibnu ‘Umar_

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻣِﺠْﻠَﺰِ ﻗَﺎﻝَ : “ﺻَﻠَّﻴْﺖُ ﻣَﻊَ ﺍِﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺻَﻼَﺓَ ﺍﻟﺼُّﺒْﺢِﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻘْﻨُﺖْ .” ﻓَﻘُﻠْﺖُ : “ ﺁﻟﻜِﺒَﺮُ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻚَ ,” ﻗَﺎﻝَ : “ ﻣَﺎ ﺃَﺣْﻔَﻈُﻪُﻋَﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲْ ”.

“ Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu ‘Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku”. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1\246, Al-Baihaqy 2\213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa ’id 2\137 dan Al-Haitsamy berkata :”rawi-rawinyatsiqoh”.

Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari’atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.

Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu‘Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu ’ Al-Fatawa berkata : “dan demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid’ah”.

Kelima : nukilan-nukilan orang-orang Yang berpendapat disyari’atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut,
 Nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :

1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.

2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.

Keenam : setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari’atkannya qunut shubuh secara terus menerus dengan membaca do’a qunut “Allahummahdinaa fiman hada it……. sampai akhir do’a kemudian diaminkan oleh para ma’mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.
Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad .

Kesimpulan

Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazi lah adalah bid’ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.
Wallahu a’lam .

Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al-Mughny 2/575-576, Al-Insho f 2/173, Syarh Ma’a ny Al-A tsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Ha syiyah Ar-Raud Al Murbi’ :2/197-198, Nailul Autho r 2/155-158 (Cet. Da rul Kalim Ath Thoyyib), Majmu ’ Al Fata wa 22/104-111 dan Zadul Ma’ad 1/271-285.