أَبُوْ إِرْسَانْ Nashry Basri

Tho Sidenreng

Senin, 09 Maret 2015

Jangan Kasar Saudaraku, Jangan Membuat Manusia Lari dari Agama Allah Ta’ala

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Jangan Kasar
JANGAN KASAR SAUDARAKU, JANGAN MEMBUAT MANUSIA LARI DARI AGAMA ALLAH TA'ALA.

Allah ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imron: 159]
Al-Imam Al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,
أي: برحمة الله لك ولأصحابك، منَّ الله عليك أن ألنت لهم جانبك، وخفضت لهم جناحك، وترققت عليهم، وحسنت لهم خلقك، فاجتمعوا عليك وأحبوك، وامتثلوا أمرك
ولو كنت فظا أي: سيئ الخلق { غليظ القلب } أي: قاسيه، { لانفضوا من حولك } لأن هذا ينفرهم ويبغضهم لمن قام به هذا الخلق السيئ
فالأخلاق الحسنة من الرئيس في الدين، تجذب الناس إلى دين الله، وترغبهم فيه، مع ما لصاحبه من المدح والثواب الخاص، والأخلاق السيئة من الرئيس في الدين تنفر الناس عن الدين، وتبغضهم إليه، مع ما لصاحبها من الذم والعقاب الخاص، فهذا الرسول المعصوم يقول الله له ما يقول، فكيف بغيره؟
أليس من أوجب الواجبات، وأهم المهمات، الاقتداء بأخلاقه الكريمة، ومعاملة الناس بما يعاملهم به صلى الله عليه وسلم، من اللين وحسن الخلق والتأليف، امتثالا لأمر الله، وجذبا لعباد الله لدين الله.
ثم أمره الله تعالى بأن يعفو عنهم ما صدر منهم من التقصير في حقه صلى الله عليه وسلم، ويستغفر لهم في التقصير في حق الله، فيجمع بين العفو والإحسان
“Maknanya: Dengan sebab rahmat Allah kepadamu (wahai Muhammad) dan sahabat-sahabatmu, maka Allah ta’ala menganugerahkan nikmat kepadamu sehingga engkau dapat berlemah lembut, rendah hati, halus dan berakhlak baik terhadap mereka, maka mereka pun bersatu bersamamu, mencintaimu dan menaati perintahmu.
“Sekiranya kamu bersikap keras”, maknanya: Berakhlak jelek. “Berhati kasar”, maknanya: Mengeraskan hati. “Tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”, karena ini membuat mereka lari dan marah terhadap orang yang memiliki akhlak jelek ini.
Maka akhlak yang baik termasuk modal utama dalam agama, yang dapat menarik dan memotivasi manusia kepada agama Allah, bersama dengan pujian dan pahala yang khusus bagi pemiliknya. Adapun akhlak yang jelek dalam agama, termasuk sebab utama yang menjauhkan dan membuat marah umat manusia terhadap agama, bersama dengan celaan dan hukuman yang khusus bagi pemiliknya. Maka inilah Rasul yang maksum (terjaga dari dosa), namun Allah ta’ala berfirman kepada beliau tentang ini, bagaimana lagi dengan selain beliau?!
Bukankah termasuk kewajiban terbesar dan terpenting adalah meneladani akhlak beliau yang mulia dan bergaul dengan manusia sesuai perangai beliau shallallahu’alaihi wa sallam, yaitu perangai kelembutan, akhlak baik dan menyatukan hati demi menaati perintah Allah ta’ala dan menarik hamba-hamba Allah kepada agama Allah.
Kemudian (dalam lanjutan ayat) Allah ta’ala memerintahkan beliau shallallahu’alaihi wa sallam untuk memaafkan kesalahan mereka terhadap beliau dan memohonkan ampun atas kesalahan mereka kepada Allah ta’ala, maka dengan begitu beliau telah mengumpulkan antara pemaafan dan perbuatan baik.” [Tafsir As-Sa'di, hal. 154]
Beberapa Pelajaran:
1) Dengan sebab rahmat (kasih sayang) Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya sehingga mereka diberikan oleh Allah ta’ala taufiq untuk dapat beramal shalih, maka tidaklah patut bagi seorang hamba untuk menyombongkan diri dan merasa bangga dengan amalan-amalan shalih yang ia kerjakan.
2) Apabila tidak patut menyombongkan diri dan berbanga-bangga dengan amal shalih maka lebih tidak patut lagi untuk sombong dan bangga dengan kemewahan dunia.
3) Perintah berakhlak baik dan celaan terhadap akhlak yang jelek.
4) Pentingnya akhlak yang baik bagi seorang da’i, bahwa dakwah tidak cukup hanya dengan penyampaian ilmu, tapi harus disertai dengan akhlak yang mulia dalam bergaul.
  • Dan bahwa kelembutan adalah asal dalam berdakwah,
  • Tidak boleh bersikap keras kecuali ketika dibutuhkan,
  • Dilakukan sesuai kadarnya,
  • Dan tidak memunculkan kemudaratan yang lebih besar.
5) Peringatan dari bahaya kejelekan akhlak, bukan hanya terhadap diri, tetapi juga terhadap agama, bahwa yang menghalangi manusia dari agama Allah bukan saja para penyesat umat dari kalangan ahlul bid’ah dan kesesatan, tetapi bisa juga dari kalangan ahlus sunnah yang berakhlak jelek, sehingga manusia lari dari agama Allah ta’ala.
Oleh karena itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam banyak berpesan kepada para sahabat beliau untuk bersikap lemah lembut kepada manusia dan memberikan kemudahan. Diantaranya sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam kepada dua orang sahabat (Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al-’Asy’ari radhiyallahu’anhuma) yang akan diutus ke negeri Yaman untuk berdakwah,
يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا
“Hendaklah kalian berdua memberi kemudahan dan jangan mempersulit, memberi kabar gembira dan jangan membuat manusia lari, saling rukun dan jangan berselisih.” 
[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Sa’id bin Abi Burdah dari Bapaknya dari Kakeknyaradhiyallahu’anhu]
Demikian pula sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam ketika menegur para sahabat dalam memperlakukan Orang Arab Badui yang kencing di masjid,
دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
“Biarkan dia dan siramlah kencingnya dengan seember air atau sebejana air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan, bukan untuk mempersulit.”
[HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Dan lihatlah kelebihan-kelebihan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang dapat membantu dakwah beliau agar diterima manusia, diantaranya:
1. Beliau dikenal sebagai Al-Amin, orang yang jujur lagi terpercaya jauh sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul.
2. Beliau memiliki kefasihan bahasa dan diberikan jawaami’ul kalim (kalimat-kalimat yang ringkas namun mengandung makna yang luas).
3. Keluasan ilmu beliau tidak diragukan lagi, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah diturunkan kepada beliau.
4. Beliau didukung oleh tanda-tanda kenabian, yaitu berbagai macam mukjizat yang membuktikan kebenaran ajaran beliau.
5. Para penyair Arab yang hebat tidak mampu mendatangkan sebuah syair dan ucapan yang semisal atau lebih baik dari Al-Qur’an yang beliau bawa.
Dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang beliau miliki untuk menguatkan dan membantu dakwah beliau. Namun, bersamaan dengan itu Allah ta’ala memperingatkan, andaikan beliau berakhlak jelek maka manusia akan lari dari agama Allah ta’ala yang beliau dakwahkan. Maka sudah tentu, kita pun sangat butuh untuk menghiasi diri dengan kelembutan dan akhlak mulia dalam berdakwah.
Kelembutan Memperindah Segala Sesuatu
Kelembutan Memperindah Segala Sesuatu
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan itu, tidaklah terdapat pada sesuatu kecuali ia akan membaguskannya, dan tidaklah ia dihilangkan dari sesuatu kecuali ia akan menjelekkannya.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Beberapa Pelajaran:
1) Perintah menghiasi diri dengan akhlak kelembutan dalam segala urusan, seperti dalam bergaul dengan orang lain maupun dalam memperlakukan hewan, kendaraan dan yang lainnya.
2) Larangan bersifat kasar lagi keras.
3) Kelembutan adalah sebab meraih segala kebaikan dan sifat keras lagi kasar adalah sebab munculnya berbagai macam kejelekan.
4) Namun harus dipahami juga, terkadang sikap kasar lagi keras diperlukan dan dianjurkan dalam keadaan tertentu, seperti ketika memerangi orang-orang kafir atau ketika maslahat untuk bersikap keras lebih besar daripada berlemah lembut.
5) Keindahan dan keluhuran akhlak Islam.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Sumber; www.fb.com/sofyanruray.info
Ahlus SunnahDakwahHikmahKelembutanSalafSalafi
« * * * *



Diposting oleh Nasri Basri di 08.35 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Jangan Kasar Saudaraku, Jangan Membuat Manusia Lari dari Agama Allah Ta’ala

Jumat, 06 Maret 2015

Kesempurnaan Islam, Bahaya Bid’ah dan Paham Kekafiran Sekularisme

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
March 6, 2015 Admin 2 Aqidah

Kesempurnaan Islam, Bahaya Bid'ah dan Paham Sesat Sekularisme
Allah ta’ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah: 3]
Beberapa Pelajaran:
1) Islam adalah agama yang sempurna, tidak mengandung kekurangan dari sisi mana pun, segala yang dibutuhkan makhluk untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat telah diajarkan dalam Islam, dan semua sisi kehidupan makhluk diatur dalam Islam, sehingga kita tidak memerlukan yang lain lagi.
Ketika ada orang yang berkata kepada Sahabat yang Mulia Salman Al-Farisi radhiyallahu’anhu,
قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ. قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ
“Sungguh Nabi kalian –shallallahu’alaihi wa sallam- telah mengajari kalian segala sesuatu sampai cara buang hajat. Maka beliau berkata: Benar, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau kecil, beliau juga melarang kami membersihkan kemaluan setelah buang hajat (istinja’) dengan tangan kanan, dengan kurang dari tiga buah batu, dengan kotoran hewan atau tulang.” [HR. Muslim]
2) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengajarkan seluruh kebaikan dan memperingatkan seluruh kejelekan, karena tugas beliau menyampaikan seluruh ajaran agama, tidak ada yang boleh disembunyikan. Sahabat yang mulia Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata,
تَرَكْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ، إِلا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam meninggalkan kami, dalam keadaan tidaklah seekor burung kecil mengepakkan dua sayapnya di udara, kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmu tentang hal itu.” Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak tersisa sedikit pun yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Abu Dzarradhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1803]
3) Bahaya besar perbuatan bid’ah dalam agama, karena orang yang berbuat bid’ah seakan menuduh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak amanah; tidak menyampaikan seluruh agama, yaitu masih ada kebaikan yang beliau belum ajarkan sehingga perlu ditambah-tambah, bahkan menuduh agama ini belum sempurna; sehingga perlu penambahan. Al-Imam Malik rahimahullah berkata,
مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} ، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا.
“Barangsiapa berbuat bid’ah dalam Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka ia telah menuduh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengkhianati tugas kerasulan, karena Allah ta’ala berfirman, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”, sehingga apa yang hari itu bukan ajaran agama, maka pada hari ini juga bukan ajaran agama.”
4) Semua bid’ah itu sesat meski manusia menganggapnya hasanah, karena agama sudah sempurna tidak memerlukan tambahan. Sahabat yang Mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhu berkata,
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةُ وَإِنْ رَآهَا النَّاس حَسَنَة
“Setiap bid’ah itu sesat, meski manusia menganggapnya hasanah (baik).”
5) Sekularisme, memisahkan dunia dan agama, menganggap agama tidak mengatur urusan dunia, tidak boleh mengatur urusan negara, pemerintahan, politik, ekonomi dan lain-lain adalah ajaran kekafiran dan kebodohan.
  • • Kekafiran karena menentang Allah dan Rasul-Nya serta mengingkari kesempurnaan Islam.
  • • Kebodohan karena tidak mengetahui fakta ilmiah dan fakta sejarah;

- Fakta ilmiahnya ajaran Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dengan sebaik-baik aturan, barangsiapa berpegang teguh dengannya maka ia akan berbahagia dunia dan akhirat.
- Fakta sejarah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat setelah beliau pernah memerintah dunia di bawah keadilan Islam dan mengantarkan umat manusia pada ketinggian peradaban dan kejayaan dunia.
- Demikian pula fakta sejarah hancurnya umat-umat di sepanjang masa ini adalah karena berpaling dari aturan-aturan Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [Al-A’rof: 96]
Maka ketika seseorang memilih sekularisme dan menolak Islam sebagai agama dan negara, dengan anggapan bahwa Islam tidak mengatur urusan negara dan masyarakat, dan bahwa pengaturan Islam hanyalah kezaliman terhadap orang-orang yang lemah, hakikatnya berakar dari tiga kesalahan mendasar:
  • 1. Ketidaktahuan tentang Islam yang sebenarnya.
  • 2. Cara berfikir yang tidak objektif, yaitu menyamakan Islam dengan agama Kristen di zaman kegelapan Eropa (sampai hari ini pun masih gelap), yang telah melakukan kezaliman terhadap umat manusia dan membawa negara dan masyarakat ke zaman kegelapan.
  • 3. Tidak mengetahui sejarah Islam, atau mengetahui namun menutup mata darinya.

Maka para ulama telah menjelaskan bahwa paham sekularisme adalah ajaran kekufuran, karena menafikan kesempurnaan Islam dan mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
www.sofyanruray.info
ahlul bid'ahAhlus Sunnahbid'ahBid'ah HasanahSunnah
« * * * * »





Diposting oleh Nasri Basri di 08.37 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Bahaya Bid’ah dan Paham Kekafiran Sekularisme, Kesempurnaan Islam

Rabu, 04 Maret 2015

Mengapa Shalawat Nariyah Dilarang?

0
AQIDAH · BID'AH · DZIKIR DAN DOA

Mengapa Shalawat Nariyah Dilarang?


shalawat nariyah

Mengapa Shalawat Nariyah Dilarang?

Tanya:
Saya pernah membaca artikel tentang shalawat nariyah di Konsultasi Syariah. Pertanyaannya mengapa Konsultasi Syariah.com mempermasalahkan shalawat nariyah. Padahal ini shalawat yg baik, memiliki banyak fadhilah.
Itu saja, mohon tanggapannya.
Dari: Obet, jawa tengah
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Berikut penjelasan salah satu situs yang menyebutkan keutamaan shalawat nariyah,
“Jika mendapat kesusahan karena kehilangan barang, hendaknya membaca sholawat ini sebanyak 4444 kali. Insya Allah barang yang hilang tersebut akan cepat kembali. Jika barang tersebut dicuri orang dan tidak dikembalikan, maka pencuri tersebut akan mengalami musibah dengan kehendak Allah swt. ….
Untuk melancarkan rezeki, memudahkan tercapainya hajat yang besar, menjauhkan dari gangguan jahat, baca sholawat ini sebanyak 444 kali, boleh dibaca sendiri atau berjamaah. Syeih Sanusi berkata: “ Barangsiapa secara rutin membaca shalawat ini setiap hari sebanyak 11 kali maka Allah swt akan menurunkan rezekinya dari langit dan mengeluarkannya dari bumi serta mengikutinya dari belakang meski tidak dikehendakinya…”
Jika orang yang mengamalkan shalawat nariyah bersedia untuk merenung sejenak – berfikir sejenak saja dengan akal sehatnya – dia akan bisa menyimpulkan hal yang aneh mengenai shalawat nariyah.
Pertama, semua manusia yang bisa membaca telah sepakat bahwa shalawat nariyah tidak pernah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, para ulama imam madzhab, maupun para ulama ahlus sunah yang menjadi sumber rujukan. Kita sendiri tidak tahu, kapan pertama kali shalawat ini diajarkan. Yang jelas, shalawat ini dicetak dalam buku karya Al-Barzanji yang banyak tersebar di tanah air.
Nah.., jika deretan manusia shaleh yang menjadi sumber rujukan ibadah tidak pernah mengenal shalawat ini, bagaimana mungkin ada embel-embel fadhilah & keutamaannya. Dari mana sumber fadhilah yang disebutkan? Amalannya saja tidak pernah dikenal di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, bagaimana mungkin ada fadilahnya??
Ini jika mereka bersedia untuk berfikir.
Kedua, beberapa orang ketika diingatkan bahwa shalawat nariyah tidak pernah dikenal dalam islam, dia berontak dan berusaha membela. Bila perlu harus menumpahkan darah, demi shalawat nariyah.
Jika orang ini bersedia untuk berfikir dan merenung, seharunya dia malu dengan tindakannya.
Saya ulangi, mereka yang membela shalawat nariyah, yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa shalawat nariyah tidak pernah dikenal oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Lantas mengapa harus dibela-bela?
Jika dia membela kalimat laa ilaaha illallah, dan memusuhi orang yang melarang membaca kalimat tauhid itu, ini perjuangan yang bernilai pahala. Karena kalimat tauhid adalah pembeda antara muslim dan kafir.
Tapi membela shalawat nariyah, apanya yang mau dibela? Apakah ini menjadi pembeda antara muslim dan kafir? Atau pembeda antara pengikut Nabi dan musuh Nabi?
Apakah dengan tidak membaca shalawat nariyah orang jadi berdosa? Apakah meninggalkan shalawat nariyah akan masuk neraka?
Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah mengenalnya dan tidak pernah mengamalkannya? Bukankah shalawat nariyah tidak pernah dikenal dalam islam?
Ini jika dia bersedia untuk berfikir.
Ketiga, jika kita perhatikan, dalam shalawat nariyah terdapat beberapa bait yang maknanya sangat berbahaya. Pengkultusan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua kaum muslimin menghormati dan mencintai beliau. Namun apapun alasannya, sikap kultus kepada manusia siapapun, tidak pernah dibenarkan dalam islam.
Allah ingatkan status Rasul-Nya kepada umat manusia, bahwa sekalipun beliau seorang nabi & rasul, beliau sama sekali tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan.
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa memberikan manfaat bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf: 188).
Kita perhatikan, Allah sampaikan bahwa Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah manusia biasa, seperti umumnya manusia. Semua sifat manusia ada pada dirinya, sehingga sama sekali tidak memiliki kemampuan di luar batas yang dimiliki manusia. Beliau tidak bisa mendatangkan rizki, tidak mampu menolak musibah dan balak, selain apa yang dikehendaki Allah. Beliau juga tidak bisa mengetahui hal yang ghaib, selain apa yang Allah wahyukan. Hanya saja, beliau adalah seorang uturan, basyir wa nadzir, yang bertugas menjelaskan syariat. Sehingga beliau wajib ditaati sepenuhnya.
Dalam shalawat nariyah, terdapat kalimat pengkultusan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang itu bertentangan dengan kenyataan di atas.
Lafadz tersebut adalah:
تـُــنْحَلُ بِهِ العُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ
Rincian:
(تنحل به العقد)
: Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(وتنفرج به الكرب)
: Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(وتقضى به الحوائج)
: Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(وتنال به الرغائب)
: Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Empat kalimat di atas merupakan pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita perhatikan, empat kemampuan di atas merupakan kemampuan yang hanya dimiliki oleh Allah dan tidak dimiliki oleh makhluk-Nya siapa pun orangnya. Karena yang bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa, hanyalah Allah. Seorang Nabi atau bahkan para malaikat sekalipun, tidak memiliki kemampuan dalam hal ini.
Seorang guru qiraah memberikan pengumuman kepada para muridnya:
“Siapa yang membuat lagu qiraah SELAIN yang saya ajarkan, saya TIDAK akan memberikan nilai, apapun bentuk lagu qiraah itu. Dan jika lagu qiraah yang baru itu fals, gak enak didengar, akan didenda 100 juta.”
Kira-kira, apa yang akan dilakukan oleh siswa. Dari pada gitu, mending ikutin aja lagu qiraah yang diajarkan guru.
Orang yang mengamalkan shalawat nariyah, apa bisa dia harapkan dari amal ini? Mengharapkan pahala? Pahala dari mana, sementara tidak pernah ada janji pahala, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat sendiri tidak pernah mengenalnya?
Terlebih dalam shalawat nariyah terdapat kalimat yang membahayakan secara aqidah.
Itu sedikit renungan, jika mereka mau berfikir.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328




Diposting oleh Nasri Basri di 23.07 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Shalawat Nariyah

Selasa, 03 Maret 2015

hadits maudhu’ (palsu)

Kisah Palsu tentang Nabi Idris bersama Malaikat Maut



Oleh: Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-
(Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Gowa)
gambar hadits maudhu
Disana ada sebuah kisah palsu yang dinisbahkan secara dusta kepada Nabi Idris -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Saking masyhurnya kisah ini, banyak penulis, dan majalah yang menukilnya, seperti  kami pernah temukan dalam Majalah “Aku Anak Shaleh”.
Bunyi hadits itu:
إِنَّ إِدْرِيْسَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ صَدِيْقًا لِمَلَكِ الْمَوْتِ. فَسَأَلَهُ أَن يُرِيَهُ الْجَنَّةَ وَ النَّارَ, فَصَعِدَ إِدْرِيْسُ فَأَرَاهُ النَّارَ فَفَزِعَ مِنْهَا وَكَادَ يُغْشَى عَلَيْهِ, فَالْتَفَّ عَلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ بِجَنَاحِهِ, فَقَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ: أَلَيْسَ قَدْ رَأَيْتَهَا؟ قَالَ: بَلىَ, وَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ قَطُّ. ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ حَتَّى أَرَاهُ الْجَنَّةَ, فَدَخَلَهَا, فَقَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ قَدْ رَأَيْتَهَا. قَالَ إِلَى أَيْنَ؟ قَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ: حَيْثُ كُنْتَ. قَالَ إِدْرِيْسُ: لاَ وَاللهِ ! لاَ أَخْرُجُ مِنْهَا بَعْدَ أَنْ دَخَلْتُهَا. فَقِيْلَ لِمَلَكِ الْمَوْتِ: أَلَيْسَ أَنْتَ قَدْ أَدْخَلْتَهُ إِيَّاهَا؟ وَإِنَّهُ لَيْسَ لأَحَدٍ دَخَلَهَا أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا
“Sesungguhnya Nabi Idris -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu berteman dengan Malaikat Maut. Lalu ia pun meminta kepadanya agar diperlihatkan surga dan neraka.
Idris pun naik (ke langit), lalu Malaikat Maut memperlihatkan neraka kepadanya. Lalu Idris kaget sehingga hampir pingsan. Maka Malaikat Maut mengelilingkan sayapnya pada Idris seraya berkata, “Bukankah engkau telah melihatnya?” Idris berkata, “Ya, sama sekali aku belum pernah melihatnya seperti hari ini”.
Kemudian, Malaikat Maut membawanya sampai ia memperlihatkan surga kepada Nabi Idris seraya masuk ke dalamnya.
Malaikat Maut berkata, “Pergilah, sesungguhnya engkau telah melihatnya”.
“Kemana?”, tanya Idris.
“Ke tempatmu semula”, jawab Malaikat Maut.
“Tidak ! Demi Allah, aku tak akan keluar setelah aku memasukinya”, tukas Idris.
Lalu dikatakanlah kepada Malaikat Maut, “Bukankah engkau yang telah memasukkannya? Sesungguhnya seorang yang telah memasukinya tidak boleh keluar darinya”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (no. 7269), dan Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (no. 862)]
Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh dusta,yaitu Ibrahim bin Abdullah bin Khalid Al-Mishshishiy. Sebab itu, hadits ini dicantumkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam kumpulan hadits-hadits palsu di dalam kitabnya Adh-Dho’ifah (339).
Dari sisi matan (redaksi) hadits tercium bau kelemahan dan kepalsuan padanya, dimana hadits ini menggambarkan bahwa Nabi Idris membangkang perintah Malaikat Maut. Akankah seorang nabi yang mulia memiliki sifat tersebut. Jelas tidak mungkin!!
Sisi lain, digambarkan bahwa Malaikat Maut melakukan suatu tugas selain mencabut nyawa, yakni mengantar Nabi Idris ke neraka dan surga.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
















Diposting oleh Nasri Basri di 05.12 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Kisah Palsu tentang Nabi Idris bersama Malaikat Maut
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Arsip Blog

  • ▼  2026 (1)
    • Maret (1)
  • ►  2024 (2)
    • November (1)
    • Juni (1)
  • ►  2022 (6)
    • Desember (2)
    • Oktober (1)
    • Juni (1)
    • Mei (1)
    • April (1)
  • ►  2021 (5)
    • Oktober (1)
    • April (2)
    • Maret (1)
    • Februari (1)
  • ►  2020 (17)
    • Desember (3)
    • November (1)
    • September (4)
    • Agustus (1)
    • Mei (2)
    • April (4)
    • Februari (2)
  • ►  2019 (12)
    • September (1)
    • Agustus (1)
    • Juni (5)
    • Mei (1)
    • Februari (3)
    • Januari (1)
  • ►  2018 (11)
    • Desember (1)
    • Oktober (2)
    • Agustus (3)
    • Juli (1)
    • Mei (1)
    • Maret (3)
  • ►  2017 (22)
    • Oktober (4)
    • Agustus (1)
    • Juli (7)
    • Juni (1)
    • Mei (5)
    • April (1)
    • Maret (1)
    • Februari (2)
  • ►  2016 (10)
    • Juli (1)
    • April (2)
    • Maret (4)
    • Januari (3)
  • ►  2015 (61)
    • November (1)
    • Oktober (2)
    • Agustus (1)
    • Juli (5)
    • Juni (2)
    • Mei (7)
    • April (10)
    • Maret (11)
    • Februari (22)
  • ►  2014 (170)
    • Desember (8)
    • November (5)
    • Oktober (10)
    • September (41)
    • Agustus (24)
    • Juli (1)
    • Juni (11)
    • Mei (16)
    • April (13)
    • Maret (3)
    • Februari (12)
    • Januari (26)
  • ►  2013 (2)
    • Desember (1)
    • Januari (1)
Nasrhy Basri Tho Sidenreng. Tema Tanda Air. Diberdayakan oleh Blogger.