Rabu, 25 Juni 2014

Perbekalan di Bulan Ramadhan


بِسْـــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم  
●═══════════════●
Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad Fauzan Al-Kutawy

Kedatangan bulan ramadhan adalah sesuatu yang dinantikan oleh segenap kaum muslimin di penjuru dunia dan kegembiraan bagi mereka.
Rasulullah   bersabda:

قد جاءكم رمضان شهر مبارك افترض الله عليكم صيامه تفتح فيه أبواب الجنة ويغلق فيه أبواب الجحيم وتغل فيه الشياطين فيه ليلة خير من ألف شهر من حرم خيرها فقد حرم

“Sungguh telah datang kepada kalian ramadhan bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan terhadap kalian puasa padanya, dibukalah pada bulan tsb pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta dibelenggulah para syaithan, padanya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharamkan dari kebaikannya maka sungguh telah diharamkan”.
Hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- riwayat Ahmad dlm Musnadnya (8991)

Demikianlah kedatangan ramadhan yang Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- menjanjikan berbagai macam kebaikan didalamnya bagi orang-orang yang memanfaatkan bulan tersebut dengan berbagai macam amalan kebaikan dan ibadah kepada Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-.

Namun sebaliknya pula, sungguh Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- telah memberitakan kepada kita bahwa akan ada diantara manusia yang akan celaka dan binasa bersamaan dengan keberadaannya dibulan ramadhan tersebut.

Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-:
Bahwasanya Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- naik keatas mimbar, lalu berkata:
Aamiin (kabulkanlah), Aamiin, Aamiin.
Maka para sahabat bertanya:
Wahai Rasulullah, Apakah yang engkau aamiin kan??
Maka beliau bersabda:
Jibril telah mendatangiku lalu berkata:

رغم أنف امرء جاءه رمضان فلم يغفر له

“Kecelakaanlah bagi seseorang yang datang kepadanya ramadhan lalu berlalu darinya sedangkan dosa-dosanya tidak terampuni”.
Katakanlah wahai Muhammad “Aamiin“, maka akupun mengucapkannya”.
HR. Muslim (2551)

Ternyata adapula orang yang sengsara dengan keberadaannya dibulan penuh berkah ini!!
Ternyata adapula orang yang celaka dengan ramadhannya!!
Ternyata adapula orang yang binasa dibulan mulia ini!!

Oleh sebab itulah hendaklah setiap muslim mempersiapkan sebaik-baiknya perbekalan yang dengannya ia melewati ramadhan mubarokah ini, sehingga ia bisa meraih keberuntungan yang besar yang telah dijanjikan oleh Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- dan agar tidak menjadikan ramadhan yang ia lewati sebagai waktu yang sia-sia dan kebinasaan baginya.

Diantara perbekalan dibulan ramadhan yang seharusnya dimiliki seorang muslim adalah sbb:

BEKAL PERTAMA:
KEIMANAN KEPADA ALLAH
Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman:

يآ أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة؛ ١٨٣)

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”. QS. Al Baqarah; 183.

Dalam ayat yang mulia ini Allah -Tabaraka Wa Ta’ala- menyeru orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang telah memiliki bekal keimanan didalam hati mereka, sehingga merekapun diperintahkan untuk berpuasa dengan dasar keimanan tersebut.
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata:
Rasulullah bersabda:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan dengan dasar keimanan dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR. Muslim

Hadits ini menunjukkan bahwa keutamaan berpuasa itu hanyalah bagi orang-orang yang melakukannya dengan dasar keimanan didalam hatinya.

BEKAL KE-DUA:
KETAKWAAN
Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman:

وتزودوا فإن خير الزاد التقوى (البقرة؛١٩٧)

“Berbekallah kalian, maka sebaik-baik perbekalan adalah ketakwaan”. QS. Al Baqarah; 197.

Maka setiap muslim seharusnya membekali dirinya dengan ketakwaan diperjalanannya menuju keridhaan Allah -azza wa jalla- dan surga-Nya.
Dan ketakwaan kepada Allah adalah dengan cara menjalankan perintah Allah diatas petunjuk-Nya dan meninggalkan seluruh perkara yang dilarang oleh Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- dengan mengharapkan pahala dan takut terhadap siksa-Nya.

Seorang yang berpuasa namun tidak didasari ketakwaan kepada Allah -azza wa jalla- hanyalah akan mendapatkan letih dan dahaga semata dengan puasanya tersebut.
Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya maka Allah tidaklah butuh untuk dia meninggalkan makan dan minumnya”.
Dan Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman:

إنما يتقبل الله من المتقين

“Sesungguhnya Allah hanya akan menerima dari orang-orang yang bertakwa”.

BEKAL KE-TIGA:
I  L  M  U
Yaitu : mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa dan ibadah lainnya dibulan ramadhan tersebut, dan seorang yang tidak mengetahui hukum-hukum seputar ibadah yang ia akan kerjakan maka dikhawatirkan ia akan terjatuh kepada perkara-perkara yang bisa membatalkan amalan tersebut atau yang mengurangi pahala dan keutamaannya.
Dari Jabir -radhiyallahu ‘anhu- berkata:

Bahwasanya Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- keluar dihari fathu Makkah (pembukaan kota mekkah) pada bulan ramadhan dan beliau dan para sahabatnya dalam keadaan berpuasa hingga sesampainya di Kura’ Ghamiim (nama suatu tempat) maka beliaupun minum sampai para sahabat melihat beliau berbuka, maka setelah itu diberitakanlah kepada beliau bahwa ada sekelompok orang yang tetap berpuasa, 
Maka beliau bersabda:

أولئك العصاة أولئك العصاة

“Mereka itu bermaksiat, mereka itu bermaksiat”. HR. Muslim

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa para sahabat berkerumun melihat keadaan seseorang yang terkapar, 
Maka Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya:
Ada apa dengannya??
Para sahabat menjawab:
Seorang yang berpuasa wahai Rasulullah.
Maka beliau bersabda:

ليس من البر الصيام في السفر

“Bukanlah merupakan suatu kebaikan berpuasa disafar (perjalanan)”.
Lihatlah keadaan orang-orang yang pada waktu itu belum memiliki pemahaman tentang hukum berpuasa ketika safar (perjalanan) yang meletihkan, sehingga mereka beramal dengan sesuatu yang membahayakan diri mereka sendiri dan tidak mendapatkan keutamaan dengan puasanya tersebut.

Wallohul musta’an.

Namun setelah itu Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan ilmu dan pelajaran kepada mereka sehingga setelah itu merekapun beramal dengan pelajaran dan ilmu tersebut.

BEKAL KE-EMPAT:
KESABARAN
Makan, minum dan jima’ adalah perkara yang disenangi seseorang secara fitrohnya, maka tatkala hal tersebut ditahan dari seseorang maka dibutuhkan kesabaran padanya untuk bisa melaksanakan perintah tersebut dengan ikhlas kepada Allah -azza wa jalla-.
Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman:

يآ أيها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة إن الله مع الصابرين (البقرة؛ ١٥٣)

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah kalian pertolongan dengan bersabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar”. QS. Al Baqarah; 153.

Tanpa kesabaran maka seorang tak akan lolos menghadapi ibadah dibulan ramadhan ini.
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- :

Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan berkata:
Wahai Rasulullah, binasalah aku
Maka Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab:
“Apakah yang menyebabkan engkau binasa??”
Iapun menjawab:
Aku telah melakukan jima’ dengan istriku disiang ramadhan
Maka Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Apakah engkau mampu membebaskan seorang budak??”
Iapun menjawab:  Tidak
Nabi pun bersabda:

“Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut??”
Ia menjawab:  Tidak
Nabi pun bersabda:

“Apakah engkau bisa memberi makan enam puluh orang miskin??”
Iapun menjawab: Tidak
Kemudian Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- duduk dan didatangkanlah sewadah korma kepada Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- 
lalu Beliau bersabda:
“Bersedekahlah dengan ini”
Orang tersebut menjawab:
Apakah ada orang yang lebih fakir daripada kami?? Tidak ada diantara rumah dikampung ini yang lebih butuh daripada kami

Maka Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- tertawa hingga kelihatan gigi taringnya, 
lalu Beliau bersabda:

“Pergilah dan berilah makan keluargamu dengannya”. Muttafaqun ‘alaih.

Hadits ini tentu memberikan pelajaran bagi kita untuk mempersiapkan bekal kesabaran dalam menghadapi amalan dibulan ramadhan, karena jika seorang terlepas dari bentuk kesabaran maka ia terlepas dari kebaikan dan keutamaan amalan tersebut.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata:
Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
Allah -azza wa jalla- berfirman:

كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به يدع طعامه وشرابه وشهوته من أجلي

“Setiap amalan anak cucu Adam itu akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat kebaikannya hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, karena ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, ia telah meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku”. HR. Muslim

Dalam keterangan ini jelas menunjukkan bahwasanya Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- membalas dan memberikan keutamaan kepada mereka disebabkan kesabaran mereka dalam menahan lapar dan dahaganya karena Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- sehingga merekapun meraih keberuntungan yang sangat besar tersebut.
Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman:

إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب

“Sesungguhnya Allah akan memenuhi pahala orang-orang yang bersabar itu dengan tanpa perhitungan”.

BEKAL KELIMA :
KEJUJURAN
Ibadah dibulan ramadhan adalah amalan besar disisi Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-, oleh sebab itu dibutuhkan kejujuran dalam pelaksanaannya sehingga kebaikan dan keutamaan ibadah tersebut bisa diraih oleh seseorang, karena kejujuran adalah merupakan pangkal dari seluruh kebaikan dan demikian pula kedustaan adalah pangkal dari seluruh kejelekan.

Dari Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata:
Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وما يزال الرجل يصدق حتى يكتب عند الله صديقا، وإياكم والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وما يزال الرجل يكذب حتى يكتب عند الله كذابا

“Hendaklah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan kesurga, dan terus menerus seorang itu berbuat jujur hingga Allah mencatat disisinya sebagai seorang yang jujur, dan hati-hati kalian dari kedustaan, karena sesungguhnya kedustaan itu mengantarkan kepada kenistaan, dan sesungguhnya kenistaan itu mengantarkan keneraka, dan sesungguhnya seseorang terus menerus berdusta hingga dicatat disisi Allah sebagai seorang pendusta”.  Muttafaqun ‘alaih.

Dan kedustaan juga akan memberikan pengaruh jelek pada ibadah seorang dibulan ramadhan ini.
Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya maka Allah tidaklah butuh untuk dia meninggalkan makan dan minumnya”.

BEKAL KE-ENAM:
KESUNGGUHAN
Sebagaimana kita ketahui bahwa ramadhan adalah bulan ibadah dan bersegera dalam amalan-amalan kebaikan, maka untuk mendapatkan keberhasilan dan keberuntungan dalam menghadapi ramadhan tersebut dibutuhkan usaha dan kesungguhan yang lebih dari hari-hari sebelumnya.

Dan Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- menjanjikan keberhasilan dalam suatu perkara itu dengan kesungguhan dalam menempuhnya.
Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalan kami maka Kami akan berikan petunjuk kejalan Kami tersebut”.

Maka marilah kita melihat bagaimanakah amalan hamba termulia yaitu Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- pada bulan ramadhannya.
Dari Aisyah -radhiyallahu ‘anha- berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في رمضان ما لا يجتهد في غيره

“Adalah Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersungguh-sungguh pada bulan ramadhan dengan kesungguhan yang tidak pernah sebelumnya beliau kerahkan”.  HR. At Tirmidzi
Dari Aisyah -radhiyallahu ‘anha- berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وجد وشد المئزر

“Adalah Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- jika memasuki sepuluh terakhir ramadhan beliaupun menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan memperkuat ikatan sarungnya”.  HR. Muslim.

Demikianlah kriteria seorang yang berhasil dan beruntung dengan ramadhannya, yaitu dengan mengerahkan kesungguhan dan usaha keras, bukan dengan bersantai-santai atau melakukan amalan-amalan yang sia-sia.

Wallohul musta’an.

Inilah beberapa perbekalan yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim dalam memasuki bulan ramadhan yang mubarokah ini.
Dan tentunya masih banyak perbekalan-perbekalan yang dibutuhkan oleh seorang muslim dibulan ramadhan ini diantaranya:

BEKAL KE- TUJUH:
MUROQOBATULLAH
(MERASA DIAWASI OLEH الله (ALLAH) )

BEKAL KE- DELAPAN:
IKHLAS

BEKAL KE-SEMBILAN:
BERTAUBAT &  KEMBALI KEPADA الله [Allah]

BEKAL KE- SEPULUH:
TAWAKKAL

BEKAL KE-SEBELAS:
HARTA

BEKAL KE-DUABELAS:
KEKUATAN
Namun karena keterbatasan waktu dan kesempatan yang kami miliki maka kami belum sempat menyebutkan pendalilan dan penjelasan perkara-perkara tersebut.

Mudah-mudahan dengan penjelasan yang ringkas ini bisa memacu diri-diri kita untuk mempersiapkan perbekalan untuk menghadapi bulan yang penuh berkah ini.

Wallahu Ta’ala a’lam bishowwab.




Senin, 23 Juni 2014

Mewudhukan Orang yang Sakit


 بِسْـــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم   

Pertanyaan:
Bagaimana cara menyucikan orang yang sakit yang tidak bisa wudhu sendiri?

Jawaban :

Menuangkan air wudhu untuk orang lain adalah hal yang diperbolehkan sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits.
Oleh karena itu, membasuhkan air wudhu pada anggota wudhu orang yang sakit adalah hal yang diperbolehkan.
Cara membasuhnya adalah sebagaimana dia berwudhu untuk dirinya sendiri.
Wallâhu A’lam .






Sabtu, 14 Juni 2014

PERBEDAAN JIN, SYAITHAN & BLIS.

█║▌│█│║║│█║║▌║ █ 

Tanya :

Apa perbedaan jin, syaithan, & iblis.

Apakah mereka memiliki keturunan seperti manusia?

Jawab :

 بِسْـــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم 

  Iblis adalah syaithon terbesar yang diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam kemudian dia enggan dan bersombong kemudian termasuk dari golongan kafir.
Maka dia berhak mendapatkan laknat sampai hari kiamat.
Dia memiliki keturunan menurut pendapat yang kuat dari pendapat ulama. 
Adapun jin dari mereka ada yang mukmin dan adapula yang kafir.
Ada yang baik ada yang jahat.
Siapa yang jelek, membangkang, dan durhaka dari mereka maka itulah syaithon.  Wallahu a’lam.
{ Ustadz Ayyub حفظه الله }
●═════════════════●




























PENYAKIT 'AiN

 █║▌│█│║▌║│█║║▌║ █ 

Tanya :
Mohon penjelasan tentang penyakit 'ain, apakah dengan memajang foto di fb atau BB bisa menimbulkan penyakit 'ain?


Jawab :

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ

Penyakit ‘ain, yaitu penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ﻭﺍﻟﻌﻴﻦ ﻧﻈﺮ ﺑﺎﺳﺘﺤﺴﺎﻥ ﻣﺸﻮﺏ ﺑﺤﺴﺪ ﻣﻦ ﺧﺒﻴﺚ ﺍﻟﻄﺒﻊ ﻳﺤﺼﻞ ﻟﻠﻤﻨﻈﻮﺭ ﻣﻨﻪ ﺿﺮﺭ

“Dan ‘ain itu adalah pandangan suka disertai hasad yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang itu tertimpa suatu bahaya.”
[Fathul Bari,10/200]

Penyakit ‘ain adalah sesuatu yang benar-benar ada secara hakiki. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟْﻌَﻴْﻦُ ﺣَﻖٌّ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺷَﻰْﺀٌ ﺳَﺎﺑَﻖَ ﺍﻟْﻘَﺪَﺭَ ﺳَﺒَﻘَﺘْﻪُ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺍﺳْﺘُﻐْﺴِﻠْﺘُﻢْ ﻓَﺎﻏْﺴِﻠُﻮﺍ

“Penyakit ’ain itu benar adanya, andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir maka ‘ain akan mendahuluinya, dan apabila kalian diminta mandi (untuk pengobatan orang yang terserang 'ain) maka mandilah.”
[HR. Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma]

Beberapa Faidah:
1) Apabila seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan pada diri saudaranya, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya, inilah cara untuk mencegah penyakit ‘ain. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻯ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺧِﻴﻪِ ، ﺃَﻭْ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ، ﺃَﻭْ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﻣَﺎ ﻳُﻌْﺠِﺒُﻪُ ، ﻓَﻠْﻴُﺒَﺮِّﻛْﻪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦَ ﺣَﻖٌّ

“Apabila seorang dari kalian melihat sesuatu dari saudaranya, atau melihat diri saudaranya, atau melihat hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuk saudaranya tersebut, karena sesungguhnya penyakit ‘ain benar-benar ada.”
[HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amir, Ash-Shahihah, no.2572]

2) Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma di atas menjelaskan kepada kita salah satu cara untuk mengobati penyakit ‘ain adalah dengan meminta kepada orang yang memandang untuk mandi, kemudian bekas air mandinya disiramkan kepada orang yang dipandangnya. Adapun tatacaranya dijelaskan dalam hadits berikut,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺃُﻣَﺎﻣَﺔَ ﺑْﻦِ ﺳَﻬْﻞِ ﺑْﻦِ ﺣُﻨَﻴْﻒٍ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮَّ ﻋَﺎﻣِﺮُ ﺑْﻦُ ﺭَﺑِﻴﻌَﺔَ ﺑِﺴَﻬْﻞِ ﺑْﻦِ ﺣُﻨَﻴْﻒٍ ، ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞُ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﻢْ ﺃَﺭَ ﻛَﺎﻟْﻴَﻮْﻡِ ، ﻭَﻻَ ﺟِﻠْﺪَ ﻣُﺨَﺒَّﺄَﺓٍ ﻓَﻤَﺎ ﻟَﺒِﺚَ ﺃَﻥْ ﻟُﺒِﻂَ ﺑِﻪِ ، ﻓَﺄُﺗِﻲَ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠﻴْﻪِ ﻭﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟَﻪُ : ﺃَﺩْﺭِﻙْﺳَﻬْﻼً ﺻَﺮِﻳﻌًﺎ ، ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺗَﺘَّﻬِﻤُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻋَﺎﻣِﺮَ ﺑْﻦَ ﺭَﺑِﻴﻌَﺔَ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻼَﻡَ ﻳَﻘْﺘُﻞُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﺧَﺎﻩُ ، ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻯ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺧِﻴﻪِ ﻣَﺎ ﻳُﻌْﺠِﺒُﻪُ ، ﻓَﻠْﻴَﺪْﻉُ ﻟَﻪُﺑِﺎﻟْﺒَﺮَﻛَﺔِ ﺛُﻢَّ ﺩَﻋَﺎ ﺑِﻤَﺎﺀٍ ، ﻓَﺄَﻣَﺮَ ﻋَﺎﻣِﺮًﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺄَ ، ﻓَﻐَﺴَﻞَ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻭَﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤِﺮْﻓَﻘَﻴْﻦِ ، ﻭَﺭُﻛْﺒَﺘَﻴْﻪِ ﻭَﺩَﺍﺧِﻠَﺔَ ﺇِﺯَﺍﺭِﻩِ ، ﻭَﺃَﻣَﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﻳَﺼُﺐَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ . ﻗَﺎﻝَ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥُ : ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻌْﻤَﺮٌ ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﺰُّﻫْﺮِﻱِّ : ﻭَﺃَﻣَﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜْﻔَﺄَ ﺍﻹِﻧَﺎﺀَ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻪِ .

“Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata: Amir bin Rabi’ah melewati Sahl bin Hunaif ketika ia sedang mandi, lalu Amir berkata: Aku tidak melihat seperti hari ini; kulit yang lebih mirip kulit wanita yang dipingit, maka tidak berapa lama kemudian Sahl terjatuh, lalu beliau dibawa kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, seraya dikatakan: “Selamatkanlah Sahl yang sedang terbaring sakit.”

 Beliau bersabda: “Siapa yang kalian curigai telah menyebabkan ini?” Mereka berkata: “Amir bin Rabi’ah.” Beliau bersabda: “Kenapakah seorang dari kalian membunuh saudaranya?

Seharusnya apabila seorang dari kalian melihat sesuatu pada diri saudaranya yang menakjubkan, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya.”

Kemudian beliau meminta air, lalu menyuruh Amir untuk berwudhu, Amir mencuci wajahnya, kedua tangannya sampai ke siku, dua lututnya dan bagian dalam sarungnya.

Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menyiramkan (bekas airnya) kepada Sahl.” Berkata Sufyan, berkata Ma’mar dari Az-Zuhri:

"Beliau memerintahkannya untuk menyiramkan air dari arah belakangnya.”
[HR.Ibnu Majah dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, Shahih Ibni Majah, no. 2828]

3) Cara penyembuhan lainnya adalah dengan diruqyah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,


ﻻَ ﺭُﻗْﻴَﺔَ ﺇِﻻَّ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﻦٍ ﺃَﻭْ ﺣُﻤَﺔ

“Tidak ada ruqyah (yang lebih bermanfaat) kecuali untuk penyakit ‘ain atau penyakit yang diakibatkan sengatan binatang berbisa.”
[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu’anhu secara marfu']

4) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memperlindungkan anak-anak kepada Allah ta’ala dari penyakit ‘ain, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳُﻌَﻮِّﺫُ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦَ ﻭَﺍﻟْﺤُﺴَﻴْﻦَﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻥَّ ﺃَﺑَﺎﻛُﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﻌَﻮِّﺫُ ﺑِﻬَﺎ ﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﻭَﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﺃُﻋِﻴﺬُﻛُﻤَﺎ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺘَّﺎﻣَّﺔِ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٍ ﻭَﻫَﺎﻣَّﺔٍ ﻭَﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﻋَﻴْﻦٍ ﻻَﻣَّﺔ

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah memperlindungkan Al-Hasan dan Al-Husain (kepada Allah ta’ala):

ﺃَﻋُﻴﺬُﻛُﻤَﺎ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺘَّﺎﻣَّﺔِ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٍ ﻭَﻫَﺎﻣَّﺔٍ ، ﻭَﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﻋَﻴْﻦٍﻻَﻣَّﺔٍ

“U’idzukuma bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaithonin wa haamatin wa min kulli ‘ainin laamatin.”
“Aku memperlindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang maha sempurna dari setan, binatang berbisa dan mata yang dengki (makna yang lain: segala macam bahaya).”

Dan beliau bersabda (kepada Al-Hasan dan Al-Husain), sesungguhnya bapak kalian berdua (yaitu nabi Ibrahim ‘alaihissalam) memperlindungkan Ismail dan Ishaq dengan doa ini.”
[HR. Al-Bukhari,no. 3371]

5) Hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif di atas menunjukkan bahwa orang yang terkena penyakit ‘ain karena dipandang secara langsung.
Adapun apakah mungkin terkena penyakit ‘ain jika dipandang melalui fotonya atau gambarnya maka kami belum mengetahui penjelasan ulama akan hal tersebut, silakan ditanyakan kepada para Ustadz lainnya.

 Akan tetapi membuat gambar-gambar bernyawa apakah yang dibuat oleh tangan maupun mesin adalah terlarang berdasarkan keumuman dalil diharamkannya gambar bernyawa tanpa memberikan pengecualiaan untuk gambar yang dibuat oleh mesin. Berdasarkan banyak hadits, diantaranya,

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ، ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ، ﺯَﻭْﺝِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺃَﺧْﺒَﺮَﺗْﻪُ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺍﺷْﺘَﺮَﺕْ ﻧُﻤْﺮُﻗَﺔً ﻓِﻴﻬَﺎ ﺗَﺼَﺎﻭِﻳﺮُﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗَﺎﻡَ ﻋَﻠَﻰﺍﻟْﺒَﺎﺏِ ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺪْﺧُﻞْ ﻓَﻌَﺮَﻓَﺖْ ﻓِﻲ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﺍﻟْﻜَﺮَﺍﻫِﻴَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻳَﺎﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﺗُﻮﺏُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻣَﺎﺫَﺍ ﺃَﺫْﻧَﺒْﺖُﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﺑَﺎﻝُ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﻨُّﻤْﺮُﻗَﺔِ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖِ ﺍﺷْﺘَﺮَﻳْﺘُﻬَﺎ ﻟِﺘَﻘْﻌُﺪَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎﻭَﺗَﻮَﺳَّﺪَﻫَﺎ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇِﻥَّﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺼُّﻮَﺭِ ﻳُﻌَﺬَّﺑُﻮﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِﻭَﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻬُﻢْﺃَﺣْﻴُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺘُﻢْ – ﻭَﻗَﺎﻝَ – ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺼُّﻮَﺭُ ﻻَ ﺗَﺪْﺧُﻠُﻪُ ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔُ

“Dari Aisyah radhiyallahu’anha, seorang istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahwasannya beliau mengabarkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahwa beliau telah membeli bantal yang padanya terdapat gambar-gambar bernyawa, ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melihatnya, maka beliau hanya berdiri di pintu, tidak mau memasuki rumah.

Aisyah pun mengetahui ketidaksukaan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang tergambar pada wajah beliau, Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, aku kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah dosaku? ” Beliau bersabda, “Untuk apa bantal ini?” Aisyah menjawab, “Aku belikan untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar padanya.”

Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya para pemilik gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka: Hidupkan yang telah kalian ciptakan.”

Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam
bersabda, “Sesungguhnya rumah yang terdapat padanya gambar-gambar bernyawa tidak akan dimasuki oleh malaikat.” 
[HR.Al-Bukhari dan Muslim]

Terlebih lagi jika gambar seorang wanita disebarkan di internet, maka sisi keharamannya bertambah, yaitu dapat menimbulkan fitnah (godaan) bagi laki-laki, menampakkan aurat, hilangnya rasa malu, menjadikan suaminya atau mahramnya sebagai dayuts (orang yang tidak akan masuk surga karena hilang kecemburuannya dengan membiarkan wanita tersebut berbuat maksiat) dan mungkin disalahgunakan oleh pihak-pihak yang menginginkan kejelekan.


ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ

(Ustadz Sofyan Chalid Ruray)
































Rabu, 11 Juni 2014

Tentang Malam Nishfu Sya'ban


Allah ‘Azza wa Jalla telah mengingatkan dalam Al-Qur`an Al-Karim,

ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ

“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, telah Kucukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Kuridhai Islam sebagaiagama bagi kalian.” [Al-Ma `idah: 3]


Allah Subhanahu Juga mengingatkan,

ﺃَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺷُﺮَﻛَﺎﺀُ ﺷَﺮَﻋُﻮﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْﻳَﺄْﺫَﻥْ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻠَّﻪُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan, untuk mereka, agama yang tidak Allah izinkan?” [Asy-Syu ra :21].


Rasulullah shallalla hu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan (perkara baru) dalam urusan kami ini yang bukan berasal dari (urusan kami), perkara tersebut tertolak.” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhary dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha]

Serta banyak lagi dalil lain yang senada dengan ayat-ayat dan hadits di atas. Seluruh dalil tersebut menunjukkan secara tegas bahwa agama telah sempurna dan segala tuntunan keagamaan telah diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karena itu, tidaklah boleh kita mengada-adakan perkara baru dalam agama dalam bentuk apapun, walau dengan niat baik.

Di antara bid’ah-bid’ah tersebut adalah perayaan malam Nishfu Sya’ban. Secara global, seluruh hadits yang berkaitan dengan keutamaan Nishfu Sya’ban tidaklah memiliki riwayat kuat yang bisa dijadikan sandaran.

Hadits-hadits tentang keutamaan Nishfu Sya’ban tersebut terbagi dua:
  • Pertama : hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban secara umum.
  • Kedua: hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan Nishfu Sya’ban dalam shalat dan ibadah tertentu.
Adapun hadits-hadits tentang keutamaan Nishfu Sya’ban dalam bentuk shalat atau ibadah tertentu, semuanya berupa riwayat palsu atau batil.

Kebatilan riwayat diterangkan oleh Ibnul Jauzy dalam Al-Mandhu ’at (2/440-445 no. 1010-1014), Al-Baihaqy dalam Syu’ab Al-I man (no. 3841), Abul Khaththab Ibnu Dihyah dalam Ada ` MaWajab (hal. 79-80), Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Manar Al-Munif (no.174-177), Abu Syamah Asy-Sya fi’iy dalam Al-Ba ’its Fi Inkar Al-Bida’ Wa Al-Hawadits (hal. 124-137) dan Al-‘Ira qy dalam Takhrij Ihya` ‘Ulu mAd-Di n (no. 582). Dalam Iqtidha` Ash-Shira th Al-Mustaqim , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil kesepakatan para ulama akan kebatilan hadits-hadits tersebut.

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan Sya’ban secara umum, terdapat silang pendapat di kalangan ulama terdahulu dan belakangan.

Yang benar adalah bahwa hadits-hadits tersebut lemah, tidak bisa menjadi sandaran. Demikian pula dilemahkan oleh Ad-Da raquthny [1] ,

Al-‘Uqaily dalam Adh-Dhu’afa ’ (3/789 pada biografi Abdul Ma lik bin Abdul Malik), Ibnul Jauzy dalam Al-‘Ilal Al-Mutana hiyah (no. 915-924), Abul Khaththab Ibnu Dihyah dalam Ada `Ma Wajab (hal.80), Abu Bakr Ibnul ‘Araby dalam Ahkam Al-Qur`a n (4/1690), dan disetujui oleh Al-Qurthuby dalam Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`a n (16/128). Abul Khaththa b Ibnu Dihyah berkata,“ Ulama Al-Jarh Wa At-Ta’dil berkata,‘Tiada satu hadits pun yang shahih tentang Nishfu Sya’ban.’.” [2]

Ibnu Rajab berkata, “Pada keutamaan malam Nishfu Sya’ban, terjadi silang pendapat pada sejumlah hadits, yang kebanyakan ulama melemahkan (hadits) itu, sedangkan Ibnu Hibban menshahihkan sebagian (hadits) tersebut.” [3]

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam (salah seorang murid tabi’in) berkata, “Saya tidak mendapati seorang pun di antara guru-guru dan para ahli fiqih kami yang menoleh kepada malam Nishfu Sya’ban, serta kami tidak mendapati seorang pun yang menyebut hadits Makhul [4]

dan tidak (seorang pun) yang menganggap (bahwa Nishfu Sya’ban) memiliki keutamaan di atas selainnya.” [5]

Ketika seseorang berkata kepada Ibnu Abi Mulaikah (salah seorang panutan tabi’in dan merupakan ahli fiqih mereka di Madinah), “Sesungguhnya Ziyad An-Numairy berkata, ‘Sungguh malam Nishfu Sya’ban pahalanya seperti pahala malam Lailatul Qadr,’,” Ibnu Abi Mulaikah pun menjawab, “Andaikata Saya mendengar (Ziyad) mengucapkan hal tersebut, sedang di tanganku ada tongkat, sungguh Saya akan memukulnya dengan (tongkat) itu.” [6]

Ketika ditanya tentang sifat turun Ilahi pada malam Nishfu Sya’ban, Imam Abdullah bin Al-Mubarak menghardik penanya tersebut seraya menjawab,“ Wahai orang yang lemah, pada malam Nishfu (saja)!? Bahkan Allah turun pada setiap malam.” [7]

Demikian beberapa uraian ulama salaf terdahulu tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Meskipun hadits tentang keutamaan umum malam Nishfu Sya’ban shahih, tiada dalil pada hadits tersebut yang menunjukkan pembolehan mengadakan ritual-ritual ibadah yang sebagian kaum muslimin adakan. Karena, Nabi shallalla hu ‘alaihiwa sallam sendiri tidak pernah mencontohkan ibadah khusus, baik pada malam maupun siang Nishfu Sya’ban. Bahkan, pada malam Jum’at pun -padahal Jum’at penuh dengan keutamaan-,

Nabi shallalla hu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﻟَﺎ ﺗَﺨْﺘَﺼُّﻮﺍ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﺠُﻤْﻌَﺔِ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡٍ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﺍﻟْﻠَﻴَﺎﻟِﻲﻭَﻟَﺎ ﺗَﺨْﺘَﺼُّﻮﺍ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺠُﻤْﻌَﺔِ ﺑِﺼِﻴَﺎﻡٍ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﺍﻷَﻳَّﺎﻡِﺇﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺻَﻮْﻡٍ ﻳَﺼُﻮﻣُﻪُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ .

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at di antara malam-malam lain dengan shalat tertentu, dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jum’at di antara hari-hari lain dengan berpuasa, kecuali pada kebiasaan puasa salah seorang di antara kalian.” [8]

Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah berlalu, kami mengingatkanakan beberapa bid’ah yang kadang diamalkan pada Nishfu Sya’ban:
  • Pertama : mengerjakan shalat khusus untuk malam Nishfu Sya’ban. Banyak bentuk shalat yang sebagian manusia kerjakan pada malam Nishfu Sya’ban ini yang di antaranya adalah yang Imam An-Nawawy Asy-Sya fi’iy sebutkan dalam Al-Majmu ’ (3/549). Beliau menegaskan, “Shalat yang dikenal dengan nama shalat Ragha’ib -yaitu shalat dua belas rakaat antara Maghrib dan Isya pada malam awal Jum’at di bulan Rajab- dan shalat seratus rakaat pada malam Nishfu Sya’ban.  Kedua shalat ini adalah bid’ah dan kemungkaran yang sangat buruk. Janganlah tertipu dengan penyebutan dua shalat ini dalam Kitab Qutul Qulub dan Ihya` ‘Ulum Ad-Din. Jangan pula (tertipu) dengan hadits yang disebutkan dalam dua buku ini karena seluruh hal tersebut adalah batil …. ”Syaikh Ibnu Baz berkata, “  Tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban, telah datang hadits-hadits yang tidak boleh dijadikan sebagai sandaran. Adapun (hadits-hadits) yang datang tentang keutamaan shalat pada malam itu, seluruhnya adalah (hadits) palsu sebagaimana yang telah diingatkan oleh banyak ulama.”
  • Kedua: mengkhususkan bacaan Yasin atau surah tertentu dalam shalat malam Nishfu Sya’ban.
  • Ketiga: berpuasa pada siang Nishfu Sya’ban. Hadits yang menjelaskan tentang puasa tersebut adalah palsu.
  • Keempat: merayakan malam Nishfu Sya’ban dengan acara makan dan semisalnya.
  • Kelima : menafsirkan bahwa “malam berberkah”, yang disebut pada ayat ke-3 dan ke-4 surah Ad-Dukhan, adalah malam Nishfu Sya’ban. Penafsiran ini tentunya tidak memiliki landasan kuat, bahkan menyelisihi ketegasan Al-Qur`an dan hadits.
  • Keenam: mengkhususkan doa tertentupada malam Nishfu Sya’ban.
  • Ketujuh : ziarah kubur.
  • Kedelapan: dzikir berjamaah.
Demikian beberapa peringatan seputar malam Nishfu Sya’ban yang kami sarikan dari:
  • -  Hukm Al-Ihtifal Bi Lailah An-Nishf Min Sya’ban karya Syaikh Abdul ‘Aziz Ibnu Baz.
  • -  Kalimat Yasirah Tata’allaq Bi Syahr Sya’ban karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
  • -  Makalah tentang hadits malam Nishfu Sya’ban karya Hatim Al-‘Auny.
  • -  Al-Bida’ Al-Hauliyyah karya Abdullah At-Tuwaijiry.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin dan menjaga mereka di atas kemurnian Islam dan Sunnah. Amin.
  • [1] Dalam Al-‘Ilal .
  • [2] Al-Ba ’its hal. 127 karya Abu Syamah.
  • [3] Latha ’if Al-Ma’a rif.
  • [4] Yakni hadits Makhul tentang keutamaan Nishfu Sya’ban.
  • [5] Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam Al-Bida’ dengan sanad yang shahih.
  • [6] Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 7928 dan Ibnu Wadhdhah no.120 dengan sanad yang shahih.
  • [7] Dikeluarkan oleh Abu Ustman Ash- Shabu ny Asy-Sya fi’iy dalam ‘Aqi dah Salaf no.92.
  • [8] Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu .

Sumber:  Dzulqarnain.net