Sabtu, 17 Mei 2014

Beberapa Hukum Seputar MUHARRAM...


Muharram adalah salah satu diantara empat bulan haram dalam setahun yang Allah ‘Azza wa Jalla terangkan dalam firman-Nya,

ﺇِﻥَّ ﻋِﺪَّﺓَ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻓِﻲﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻣِﻨْﻬَﺎﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻈْﻠِﻤُﻮﺍ ﻓِﻴﻬِﻦَّﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam (keempat bulan) itu.” 
[At-Taubah:36]

Telah sah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa empat bulan haram yang dimaksud adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
[Sebagaimana dalam hadits Abu Bakrah riwayat Al-Bukhâry dan Muslim]

Kehadiran bulan Muharram bagi seorang muslim dan muslimah adalah suatu hal yang patut disyukuri dan senantiasa kita ingat. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan banyak keutamaan dan ketentuan berkaitan dengan bulan Muharram ini. 
Di antaranya adalah:

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﺑَﻌْﺪَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺷَﻬْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡُﻭَﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳْﻀَﺔِ ﺻَﻠَﺎﺓُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ

"Seutama-utama puasa setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) bulan Allah, Muharram, dan seutama-utama shalat setelah (shalat) fardhu adalah shalat Lail.” 
[Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu ]

Perhatikanlah dua keutamaan bulan Muharram dalam hadits di atas:
  • Pertama, Muharram adalah sebaik-baik bulan untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan.
  • Kedua, bulan Muharram ini disandarkan kepada Allah, menunjukkan kemuliaan Muharram dan keagungan beribadah pada bulan Muharram.
Apakah Disyariatkan Berpuasa Muharram Selama Sebulan Penuh?

Zhahir hadits di atas juga menunjukkan anjuran menghidupkan seluruh hari dalam bulan Muharram dengan berpuasa. Hanya saja, para ulama tidak mengambil zhahir hadits ini karena telah datang beberapa riwayat yang memperjelas makna hadits, yaitu bahwa disunnahkan untuk memperbanyak puasa sunnah pada bulan Muharram dengan puasa-puasa yang telah disyariatkan secara umum pada bulan-bulan lain. 

Hal tersebut berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa beliau berkata,

ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺘَﺤَﺮَّﻯﺻِﻴَﺎﻡَ ﻳَﻮْﻡٍ ﻓَﻀَّﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻴْﺮِﻩِ ﺇِﻟَّﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻴَﻮْﻡَ، ﻳَﻮْﻡَﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ، ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺸَّﻬْﺮَ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memilih suatu hari yang beliau utamakan di atas hari lain, kecuali hari ini, hari ‘Âsyûrâ`, dan bulan ini, yakni bulan Ramadhan.” 
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim. Lafazh hadits milik Al-Bukhâry]

Juga berdasarkan hadits Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bahwa beliau berkata,

ﻓَﻤَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَﺍﺳْﺘَﻜْﻤَﻞَ ﺻِﻴَﺎﻡَ ﺷَﻬْﺮٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﺃَﻛْﺜَﺮَﺻِﻴَﺎﻣًﺎ ﻣِﻨْﻪُ ﻓِﻲْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ

    “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam Menyempurnakan puasa sebulan, kecuali dalam Ramadhan, dan Saya melihat kebanyakan puasa beliau pada Sya’ban. ” 
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Sejarah Pensyariatan Puasa Hari `Âsyûrâ` (10 Muharram)

 Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ , beliau berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ ﺗَﺼُﻮﻣُﻪُ ﻗُﺮَﻳْﺶٌ ﻓِﻲﺍﻟﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺼُﻮﻣُﻪُ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻗَﺪِﻡَ ﺍﻟﻤَﺪِﻳﻨَﺔَ ﺻَﺎﻣَﻪُ، ﻭَﺃَﻣَﺮَﺑِﺼِﻴَﺎﻣِﻪِ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻓُﺮِﺽَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ ﺗَﺮَﻙَ ﻳَﻮْﻡَﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ، ﻓَﻤَﻦْ ﺷَﺎﺀَ ﺻَﺎﻣَﻪُ، ﻭَﻣَﻦْ ﺷَﺎﺀَ ﺗَﺮَﻛَﻪُ

“Hari ‘Âsyûrâ` adalah hari yang kaum Quraisy berpuasa pada masa jahiliyah, dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakan puasa (hari ‘Âsyûrâ`) tersebut. Begitu tiba diMadinah, beliau mengerjakan puasa tersebut dan memerintahkan manusia untuk mengerjakan puasa tersebut. Tatkala (puasa) Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa hari ‘Âsyûrâ`. Siapa saja yang ingin (berpuasa), silakan dia mengerjakan (puasa hari ‘Âsyûrâ`) tersebut, sedang siapa saja yang (tidak) ingin (berpuasa), silakan dia meninggalkan (puasa) tersebut.” 
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Dari Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ , beliau berkata,

ﺃَﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﺼُﻮﻣُﻮﻥَ ﻳَﻮْﻡَﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ، ﻭَﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﺎﻣَﻪُ، ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﺘَﺮَﺽَﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍﻓْﺘُﺮِﺽَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ‏«ﺇِﻥَّ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ ﻳَﻮْﻡٌ ﻣِﻦْﺃَﻳَّﺎﻡِ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻓَﻤَﻦْ ﺷَﺎﺀَ ﺻَﺎﻣَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﺷَﺎﺀَ ﺗَﺮَﻛَﻪُ‏»

"Sesungguhnya kaum Jahiliyah mengerjakan puasa hari ‘Âsyûrâ`, sedang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin mengerjakan (puasa) tersebut sebelum (puasa) Ramadhan diwajibkan. Tatkala (puasa) Ramadhan diwajibkan, 

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Sesungguhnya ‘Âsyûrâ` adalah suatu hari diantara hari-hari Allah. Siapa saja yang berkehendak, silakan dia berpuasa, sedang siapa saja yang berkehendak, silakan dia berbuka.’.” 
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim. Lafazh hadits milik Muslim]

Hukum Puasa Hari ‘Âsyûrâ`

Sebelum puasa Ramadhan diwajibkan, puasa hari ‘Âsyûrâ` adalah puasa wajib kaum muslimin. Hal tersebut diterangkan dalam hadits Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata,

ﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻣِﻦْﺃَﺳْﻠَﻢَ: ” ﺃَﻥْ ﺃَﺫِّﻥْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ: ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻛَﻞَﻓَﻠْﻴَﺼُﻢْ ﺑَﻘِﻴَّﺔَ ﻳَﻮْﻣِﻪِ، ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﻠْﻴَﺼُﻢْ،ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻴَﻮْﻡَ ﻳَﻮْﻡُ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ

“Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang lelaki dari Bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia, ‘Siapa saja yang telah makan, hendaknya dia berpuasa (dengan) menyempurnakan sisa harinya. Siapa saja yg belum makan, silakan dia berpuasa karena hari ini adalah hari `Âsyûrâ.” 
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Kemudian, hukum tersebut terhapus, dan puasa hari ‘Âsyûrâ` hanya disunnahkan sebagaimana dalam penjelasan hadits-hadits yang telah berlalu. Juga diterangkan dalam hadits Mu’âwiyah bin Abi Sufyân radhiyallahu ‘anhû bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻡُ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜْﺘُﺐِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺋِﻢٌ، ﻓَﻤَﻦْ ﺷَﺎﺀَ، ﻓَﻠْﻴَﺼُﻢْ ﻭَﻣَﻦْﺷَﺎﺀَ، ﻓَﻠْﻴُﻔْﻄِﺮْ

“Ini adalah hari ‘Âsyûrâ`. Allah tidak mewajibkannya sebagai puasa terhadap kalian, (tetapi) aku (tetap) berpuasa. Siapa saja yang berkehendak, silakan dia berpuasa, sedang siapa saja yang berkehendak, silakan dia berbuka.”
 [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Keutamaan Puasa Hari ‘Âsyûrâ`

Keberadaan puasa hari ‘Âsyûrâ` yang dahulu merupakan sebagai puasa wajib kaum muslimin menunjukkan keutamaan puasa hari ‘Âsyûrâ` ini. Bahkan, setelah puasa hari ‘Âsyûrâ` sudah tidak diwajibkan, Rasulullah tetap memberikan keutamaan dan anjuran khusus berpuasa hari ‘Âsyûrâ`.
Dalam sebuah hadits dari Abu Qatâdah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari ‘Âsyûrâ`. 
Beliau menjawab,

ﻳُﻜَﻔِّﺮُ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟْﻤَﺎﺿِﻴَﺔَ

“(Puasa tersebut) menghapuskan (dosa) tahun yang telah berlalu.”
[Diriwayatkan oleh Muslim]

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﺻِﻴَﺎﻡُ ﻳَﻮْﻡِ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ، ﺃَﺣْﺘَﺴِﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻥْﻳُﻜَﻔِّﺮَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻗَﺒْﻠَﻪُ

“Dan (tentang keutamaan) puasa hari ‘Âsyûrâ`, Saya berharap kepada Allah agar (Allah) menggugurkan dosa tahun sebelumnya.” 
[Diriwayatkan oleh Muslim]

Bahkan, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengutus utusan untuk menganjurkan manusia berpuasa hari ‘Âsyûrâ`sebagaimana telah sah dalam hadits Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallâhu ‘anhâ bahwa beliau berkata,

ﺃَﺭْﺳَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻏَﺪَﺍﺓَﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ ﺇِﻟَﻰ ﻗُﺮَﻯ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ، ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺣَﻮْﻝَﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔِ: ‏« ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﺻَﺎﺋِﻤًﺎ، ﻓَﻠْﻴُﺘِﻢَّ ﺻَﻮْﻣَﻪُ،ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﻣُﻔْﻄِﺮًﺍ، ﻓَﻠْﻴُﺘِﻢَّ ﺑَﻘِﻴَّﺔَ ﻳَﻮْﻣِﻪِ‏»ﻓَﻜُﻨَّﺎ، ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﻧَﺼُﻮﻣُﻪُ، ﻭَﻧُﺼَﻮِّﻡُ ﺻِﺒْﻴَﺎﻧَﻨَﺎ ﺍﻟﺼِّﻐَﺎﺭَﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ، ﻭَﻧَﺬْﻫَﺐُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ،ﻓَﻨَﺠْﻌَﻞُ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠُّﻌْﺒَﺔَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌِﻬْﻦِ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺑَﻜَﻰﺃَﺣَﺪُﻫُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﺃَﻋْﻄَﻴْﻨَﺎﻫَﺎ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﺈِﻓْﻄَﺎﺭِ

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengirim seorang utusan pada pagi hari ‘Âsyûrâ` ke kampung-kampung kaum Anshar yang berada di sekitar Madinah (agar menyampaikan), ‘Siapa saja yang telah berpuasa, hendaknya dia menyempurnakan puasanya, sedang siapa saja yang berbuka, hendaknya dia menyempurnakan sisa harinya.’ Setelah itu kami pun mengerjakan puasa tersebut dan melatih anak-anak kecil kami untuk berpuasa dengan kehendak Allah. Kami Pergi ke masjid dan memberi mereka mainan. Apabila salah seorang dari mereka menangis karena ingin makan, kami memberinya makanan ketika berbuka.” 
[Diriwayatkan oleh Muslim]

Berpuasa Hari Tâsû’â` (9 Muharram)

Untuk menyempurnakan keutamaan bagi kaum muslimin dan guna membedakan puasa kaum muslimin dengan Ahlul Kitab, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berpuasa 9 Muharram bersama dengan 10 Muharram. 

Hal tersebut diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa beliau berkata,

ﺣِﻴﻦَ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَﻳَﻮْﻡَ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ ﻭَﺃَﻣَﺮَ ﺑِﺼِﻴَﺎﻣِﻪِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻳَﻮْﻡٌ ﺗُﻌَﻈِّﻤُﻪُ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻓَﻘَﺎﻝَﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: ‏«ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَﺍﻟْﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤُﻘْﺒِﻞُ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺻُﻤْﻨَﺎ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَﺍﻟﺘَّﺎﺳِﻊَ ‏» ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺄْﺕِ ﺍﻟْﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤُﻘْﺒِﻞُ، ﺣَﺘَّﻰﺗُﻮُﻓِّﻲَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

“Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Âsyûrâ` dan memerintah untuk mengerjakan puasa tersebut,(para shahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashara.

’ Rasulullah shallallâhu `alaihi wa sallam pun bersabda,

‘Apabila (masih menjumpai) tahun depan, insya Allah kami (juga) akan berpuasa pada hari Kesembilan.’ (Namun), tahun depan belum lagi tiba hingga Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam wafat.”
 [Diriwayatkan oleh Muslim]

Sebagian ulama mengkhususkan dengan mengikutkan puasa 11 Muharram. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ ,

ﺻُﻮﻣُﻮﺍ ﻳَﻮْﻡَ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ، ﻭَﺧَﺎﻟِﻔُﻮﺍ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩَ،ﺻُﻮﻣُﻮﺍ ﻗَﺒْﻠَﻪُ ﻳَﻮْﻣًﺎ، ﺃَﻭْ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻳَﻮْﻣًﺎ

“Berpuasalah pada hari ‘Âsyûrâ`, dan selisihilah orang-orang Yahudi.
Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Baihaqy, tetapi pada sanadnya terdapat rawi yang bernama Ibnu Abi Lailâ, sedang Ibnu Abi Lailâ adalah seorang rawi yang lemah. Selain itu, Ibnu Abi Laila juga telah menyelisihi rawi-rawi hadits Ibnu ‘Abbâs yang lebih kuat, yang mereka meriwayatkan hadits yang sama tanpa penyebutan tambahan hari setelahnya. Tentunya pada kondisi yang seperti ini, riwayat tersebut dianggap mungkar.

Demikianlah kesimpulan Syaikh Al-Albâny dalam Adh-Dha’îfah no.4297. Berdasarkan kelemahan di atas, tidak disyari’atkan adanya puasa khusus untuk hari ke-11 Muharram.


Hikmah dan Pelajaran dari Puasa Hari `Âsyûrâ`

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhu , beliau berkata,

ﻗَﺪِﻡَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﻟﻤَﺪِﻳﻨَﺔَﻓَﺮَﺃَﻯ ﺍﻟﻴَﻬُﻮﺩَ ﺗَﺼُﻮﻡُ ﻳَﻮْﻡَ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: ‏«ﻣَﺎﻫَﺬَﺍ؟‏» ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻡٌ ﺻَﺎﻟِﺢٌ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻡٌ ﻧَﺠَّﻰﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﻣِﻦْ ﻋَﺪُﻭِّﻫِﻢْ، ﻓَﺼَﺎﻣَﻪُﻣُﻮﺳَﻰ، ﻗَﺎﻝَ: ‏«ﻓَﺄَﻧَﺎ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﻤُﻮﺳَﻰ ﻣِﻨْﻜُﻢْ‏»،ﻓَﺼَﺎﻣَﻪُ، ﻭَﺃَﻣَﺮَ ﺑِﺼِﻴَﺎﻣِﻪِ

“Begitu Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Âsyûrâ`. 
Beliau bersabda, ‘Apa ini?’
Mereka menjawab, 
‘Ini adalah hari shalih, hari tatkala Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, kemudian Musa mengerjakan puasa pada (hari) tersebut.’ 

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Kemudian beliau mengerjakan puasa pada (hari) tersebut dan memerintahkan untuk mengerjakan puasa tersebut.” 
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Dari hadits di atas dan seluruh hadits yang telah berlalu dalam pembahasan, kita mengambil beberapa pelajaran dan hikmah puasa hari ‘Âsyûrâ`
Diantaranya:

  • Pertama , pentingnya bersyukur akan nikmat dan karunia Allah karena Nabi Musa ‘alaihis salâm berpuasa untuk mensyukuri nikmat Allah pada hari ‘Âsyûrâ` itu.
  • Kedua, kegembiraan dengan pertolongan Allah kepada kaum mukminin.
  • Ketiga, keagungan ibadah puasa sebagai lambang kesyukuran dan simbol ibadah yang agung.
  • Keempat, hari-hari kehidupan dalam menghadapi musuh-musuh Allah dan orang-orang zhalim terkadang terasa panjang, tetapi akibat yang terbaik pasti berakhir untuk orang-orang yang beriman.
  • Kelima , kekuatan iman dan pendidikan di kalangan shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik anak-anak dan generasi muda mereka.
  • Keenam, penanaman dasar pokok yang sangat besar dalam agama, yaitu menyelisihi orang-orang kafir, karena Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam telah berkehendak untuk berpuasa hari ke-9 Muharram untuk tahun depannya.
  • Ketujuh , semangat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam memberi manfaat dan pengajaran kepada ummatnya kepada hal yang membawa kebaikan dan pahala yang besar untuk mereka.
  • Kedelapan, kesegeraan para shahabat dalam menjawab seruan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam . 
  • Kesembilan, keutamaan Allah sangatlah banyak kepada hamba-hamba-Nya. Pada setahun, terdapat beraneka ragam keutamaan yang menghiasi bulan-bulannya. Siapa saja yang berbuat baik, hal tersebut untuk dirinya sendiri. Namun, siapa saja yang menelantarkan, diri sendirilah yang akan menanggung kerugiannya.

Beberapa Hukum Berkaitan dengan Puasa Hari ‘Âsyûrâ`

Ada beberapa hukum lain yang mungkin diperlukan pada hari-hari yang akan datang dalam pelaksana puasa hari ‘Âsyûrâ` ini:

  • Pertama , tidak mengapa bila seseorang mengerjakan puasa hari Tâsû’â‘ atau hari ‘Âsyûrâ`, -demikian pula hari ‘Arafah dan semisalnya- bila bertepatan dengan hari Jum’at, sepanjang hal tersebut memang merupakan kebiasaan tahunannya. Namun, jika seseorang berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya, tentunya hal tersebut lebih baik dan lebih selamat terhadap larangan pengkhususan puasa pada hari Jum’at. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah.
  • Kedua, tidak mengapa bila seseorang, yang ingin berpuasa sunnah, berpuasa pada hari Sabtu karena hadits-hadits yang melarang pengkhususan puasa sunnah pada hari Sabtu adalah lemah menurut kebanyakan ahli hadits.
  • Ketiga, karena anjuran berpuasa pada Muharram berlaku umum, tentunya sangatlah baik bila seorang muslim &muslimah menghidupkan hari-hari pada Muharram ini dengan puasa, baik dengan puasa Daud, puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bîdh (tanggal 13, 14,dan 15 pada setiap bulan dlm kalender hijriyah), maupun puasa tiga hari dalam sebulan yang boleh dilakukan pada awal, pertengahan, atau akhir bulan.
  • Keempat, tidak ada ritual-ritual khusus berkaitan dengan Muharram berupa shalat khusus atau ibadah lain. Oleh karena itu,janganlah tertipu dengan berbagai kedunguan orang-orang Syi’ah yang berkaitan dengan 10 Muharram.



Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin dalam mendekatkan mereka kepada Allah Ta’âlâ. Amin.


[Rujukan pokok: Syahrullâh Al-Muharram, Fadhâ`il Wa Ahkâm, dan Risâlah Fî Ahâdîts Syahrillâh Al-Muharram karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzân]












Jumat, 16 Mei 2014

SUDAH SIAPKAH BEKALMU ?



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ


  • “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imran: 185]



Siapkan pundi-pundi bekalmu Untuk masa yang pasti menantimu Bila kematian datang menjemputmu Sampailah sudah batas hayatmu

  •  Tibalah saatnya kau bertaubat Dari segala perilaku jahat Hendaklah waspada wahai umat Sebelum ajalmu dijemput malaikat

Di hari kiamat kau akan menyesal Karena kau pergi tanpa bekal Di tempat yang selalu dirundung sial Peristiwa yang menanti di balik ajal 

  •  Tidakkah Anda merasa kecewa Sahabatmu yang senyum ceria Karena bekal yang cukup tersedia Sedang dirimu haus dahaga


[Dari buku: Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat (terjemahan dari Taujihat Islamiyah li Islahil Fardi wal Mujtama’), hal. 60-61, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


Sumber;  www.SOFYANRURAY.info












































.

Hukum Pekerja Muslim Membangun Tempat Ibadah Orang Kafir


بسم الله الرحمن الرحيم

Berpartisipasi dalam pembangunan gedung ibadah selain umat Islam adalah haram, bahkan dapat mengantarkan kepada kekafiran. 
Karena hal tersebut termasuk perbuatan tolong-menolong dalam kebatilan terbesar, yaitu kesyirikan dan kekafiran kepada Allah ta’ala. 


Berikut fatwa-fatwa ulama dalam masalah ini:

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَلَوْ أَوْصَى بِثُلُثِ مَالِهِ أو بِشَيْءٍ منه يَبْنِي بِهِ كَنِيسَةً لِصَلَاةِ النصراني ( ( ( النصارى ) ) ) أو يَسْتَأْجِرُ بِهِ خَدَمًا لِلْكَنِيسَةِ أو يَعْمُرُ بِهِ الْكَنِيسَةَ أو يَسْتَصْبِحُ بِهِ فيها أو يَشْتَرِي بِهِ أَرْضًا فَتَكُونُ صَدَقَةً على الْكَنِيسَةِ وَتَعْمُرُ بها أو ما في هذا الْمَعْنَى كانت الْوَصِيَّةُ بَاطِلَةً

“Andaikan seorang mewasiatkan sepertiga hartanya atau sedikit dari hartanya untuk digunakan membangun gereja sebagai tempat ibadah orang-orang nasrani, atau hartanya itu digunakan untuk menyewa pelayan gereja, atau memakmurkannya, atau digunakan untuk penerangan ruangannya, atau untuk dibelikan tanah sebagai wakaf bagi gereja dan mengembangkannya, atau yang semakna dengan ini semua, maka wasiat tersebut batil.

”Beliau rahimahullah juga berkata,

وَأَكْرَهُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَعْمَلَ بِنَاءً أو نِجَارَةً أو غَيْرَهُ في كَنَائِسِهِمْ التي لِصَلَوَاتِهِمْ

“Dan aku benci apabila seorang muslim bekerja sebagai pembangun gereja, atau tukang kayunya, atau pekerjaan selain itu di gereja-gereja tempat ibadah mereka (orang-orang kafir).” [Al-Umm, 4/213]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وأما مذهب أحمد في الإجارة لعمل ناووس ونحوه فقال الآمدي لا يجوز

“Adapun madzhab Al-Imam Ahmad dalam masalah ijarah (sewa jasa) untuk bekerja (membangun) nawus (tempat ibadah majusi) dan sejenisnya, maka berkata Al-Amidi: Pekerjaan itu tidak boleh.” [Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 1/244]

Fatwa Lajnah Daimah:

س: المسلم الذي وظيفته بناء، هل يجوز له أن يبني كنيسة للكفار؟ج: لا يحل لمسلم يؤمن بالله واليوم الآخر أن يبني كنيسة أو محلا للعبادة ليس مؤسسا على الإسلام الذي بعث الله به محمدا؛ لأن ذلك من أعظم الإعانة على الكفر، وإظهار شعائره، والله عز وجل يقول: { وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } سورة المائدة الآية 2

Tanya: Seorang muslim yang profesinya sebagai tukang bangunan, apakah boleh dia membangun gereja untuk (tempat ibadah) orang-orang kafir?

Jawab: Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk membangun gereja atau tempat ibadah yang tidak berlandaskan Islam, agama yang dengannya Allah ta’ala mengutus Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. 

Karena hal tersebut termasuk sebesar-besarnya bentuk pertolongan kepada orang-orang kafir dan menampakkan syiar-syiar mereka.

 Sedang Allah ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Maidah: 2]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 14/482, no. 19893]

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


  Sumber; www.  Sofyan Ruray  .info



Sabtu, 10 Mei 2014

SILSILAH ADAB DAN AKHLAQ


ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

" Adab-adab Ketika Buang Hajat".



  • 1. Segera membuang hajat.


Apabila seseorang merasa akan buang air maka hendaknya bersegera melakukannya, karena hal tersebut berguna bagi agamanya dan bagi kesehatan jasmani.
_____________________




  • 2. Menjauh dari pandangan manusia di saat buang hajat.


Dari al-Mughirah bin Syu`bah Rodhiallōhu ànhu : "Bahwasanya Nabi Shollallōhuàlaihi Wa Sallam apabila pergi untuk buang air (hajat) maka beliau menjauh". (Diriwayatkan oleh empat Imam dan dinilai shahih oleh Al-Albāni).
_____________________




  • 3. Menghindari tiga tempat terlarang, yaitu aliran air, jalan-jalan manusia dan tempat berteduh mereka.


Sebab ada hadits dari Muàdz bin Jabal Rodhiallōhu ànhu yang menyatakan demikian.
_____________________




  • 4. Tidak mengangkat pakaian hingga Sudah dekat ke tanah, yang demikian itu supaya aurat tidak terlihat.


Dari Anas Rodhiallōhuànhu: "Biasanya apabila Nabi Shollallōhuàlaihi Wa Sallam hendak membuang hajatnya tidak mengangkat (meninggikan) kainnya kecuali sudah dekat ke tanah. (HR.Abu Daud dan At-Tirmidzi, dishohihkan Albani).
_____________________




  • 5. Tidak membawa sesuatu yang mengandung dzikr kepada Allōh kecuali karena terpaksa.


Karena tempat buang air (WC dan yang semisalnya) merupakan tempat kotoran dan hal-hal yang najis, dan di situ syaithon berkumpul, dan agar memelihara nama Allōh dari penghinaan dan tindakan meremehkannya.
_____________________




  • 6. Tidak menghadap atau membelakangi kiblat.


Dari Abi Ayyub Al-Anshōri Rodhiallōhuànhu, Nabi Shollallōhuàlaihi Wa Sallam bersabda:"Apabila kamu telah tiba di tempat buang air,maka janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, apakah itu untuk buang air kecil ataupun air besar.
Akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat (ini untuk masyarakat madinah;penj.)". (Muttafaq'alaih).
_____________________




  • 7. Ketentuan di atas berlaku apabila di ruang terbuka saja.


Adapun jika didalam ruang (WC) atau adanya pelindung / penghalang yang membatasi antara si pembuang hajat dengan kiblat,maka boleh menghadap ke arah kiblat.
_____________________




  • 8. Tidak buang hajat di air yang tergenang (tidak mengalir).


Dari Abu Huroiroh Rodhiallōhu ànhu,Rosulullōh Shollallōhuàlaihi WaSallam bersabda: "Jangan sekali-kali seorang diantara kamu buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di situ".(Muttafaq'alaih).
_____________________




  • 9. Makruh berbersih dari buang hajat dengan tangan kanan.


Dari Abi Qatadah Rodhiallōhuànhu, Nabi Shollallōhuàlaihi Wa Sallam bersabda;"Jangan sekali-kali seorang diantara kamu memegang kemaluan-nya dengan tangan kanannya di saat ia kencing, dan jangan pula bersuci dari buang air dengan tangan kanannya." (Muttafaq'alaih).
_____________________




  • 10. Dianjurkan kencing dalam keadaan duduk, tetapi boleh jika sambil berdiri.


Pada dasarnya buang air kecil itu di lakukan sambil duduk, berdasarkan hadits `Aisyah Rodhiallōhu 'ànhā yang berkata: “Siapa yang telah memberitakan kepadamu bahwa Rosulullōh Shollallōhuàlaihi Wa Sallam kencing sambil berdiri, maka ia pendusta,sebab Rosulullōh Shollallōhuàlaihi Wa Sallam tidak pernah kencing kecuali sambil duduk”.(HR. An-Nasa`i dan dishohihkan Al-Albāni).

Namun, dibolehkan kencing sambil berdiri dengan syarat badan dan pakaiannya aman dari percikan air kencingnya dan aman dari pandangan orang lain kepadanya.

Hal itu karena ada hadits yang bersumber dari Hudzaifah, ia berkata: "Aku pernah bersama Nabi Shollallōhuàlaihi Wa Sallam (disuatu perjalanan) dan ketika sampai di tempat pembuangan sampah, beliau buang air kecil sambil berdiri, maka akupun menjauh darinya." (Muttafaqàlaih).
_____________________




  • 11. Makruh berbicara di saat buang hajat kecuali darurat.


Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki lewat,sedangkan Rosulullōh Shallallōhu'alaihi wasallam, Sedang buang air kecil, Lalu orang itu memberi salam (kepada Nabi), namun beliau tidak menjawabnya. (HR. Muslim).
_____________________




  • 12. Makruh bersuci (jika istijmar; dengan batu atau semisalnya) mengunakan tulang dan kotoran hewan, dan dianjurkan bersuci dengan jumlah yang ganjil.


Dari Salman Al-Farisi Rodhiallōhu ànhu disebutkan bahwasanya ia berkata: "Kami dilarang oleh Rosulullōh Shollallōhuàlaihi Wa Sallam beristinja (bersuci) dengan menggunakan kurang dari tiga biji batu, atau beristinja dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang”. (HR. Muslim).

Dan Nabi Shollallōhuàlaihi Wa Sallam juga bersabda: " Barangsiapa yang bersuci menggunakan batu (istijmar), maka hendaklah diganjilkan."
_____________________




  • 13. Dianjurkan masuk ke WC dengan mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan berbarengan dengan dzikirnya masing-masing.


Dari Anas bin Malik Rodhiallōhu ànhu, ia berkata: " Rosulullōh Shollallōhuàlaihi Wa Sallam apabila masuk ke WC mengucapkan :

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨُﺒْﺚِ ﻭَﺍﻟْﺨَﺒَﺎﺋِﺚِ

" Ya Allōh, aku berlindung kepada-Mu dari pada syaithōn jantan dan syaithōn betina". (HR. Bukhōriy–Muslim).
_____________________




  • 14. Dan apabila keluar,


mendahulukan kaki kanan sambil:mengucapkan

ﻏُﻔْﺮَﺍﻧَﻚَ

"Aku mohon ampunan-Mu".(HR.Abu Daud).
_____________________




  • 15. Mencuci kedua tangan sesudah menunaikan hajat.


Diriwayatkan dari Abu Huroiroh rodhiyallōhu 'ànhu bahwasanya Nabi Shollallōhuàlaihi Wa Sallam menunaikan hajatnya (buang air) kemudian bersuci dari air yang berada pada sebejana kecil, lalu menggosokkan tangannya ke tanah.(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
_____________________



Co-Pas dari:

“Adab-Adab Kehidupan Muslim Sehari-Hari”,
 Judul Asli: “Al-Qismu Al-Ilmi”, Penerbit Dār Al-Wathōn.
Karya: Asy-Syaikh Àbdul Àzīz bin Abdullōh bin Bāz -Rohimahullōh .-


وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم




Kamis, 08 Mei 2014

Keutamaan Beberapa Sholat Sunnah

بسم الله الرحمن الرحيم

SHOLAT SUNNAH MENYEMPURNAKAN SHOLAT WAJIB

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَىْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Sesungguhnya, amalan seorang hamba yang pertama akan dihisab pada hari kiamat adalah sholatnya, apabila baik sholatnya maka ia telah beruntung dan selamat, dan apabila rusak maka ia telah celaka dan merugi, lalu apabila ada yang kurang pada sholat wajibnya,

maka Allah ‘azza wa jalla berfirman: Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki amalan sholat sunnah, maka dengan sholat sunnah itu disempurnakan kekurangan pada sholat wajibnya, kemudian semua amalan dihisab seperti itu.” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Shahihut Targhib: 540]



  • (1) SHOLAT SUNNAH DI ANTARA AZAN DAN IQOMAH


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ – قَالَهَا ثَلاَثًا قَالَ فِى الثَّالِثَةِ – لِمَنْ شَاءَ

“Diantara setiap azan dan iqomah terdapat sholat –beliau mengatakannya tiga kali, pada ketiganya beliau berkata- bagi siapa yang mau.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu’anhu]



  • (2) KEUTAMAAN SHOLAT SUNNAH RAWATIB


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim melakukan sholat sunnah karena Allah setiap hari sebanyak 12 raka’at yang bukan sholat wajib,kecuali Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” [HR. Muslim dari Ummu Habibah radhiyallahu’anha]


Dalam riwayat lain, terdapat perincian 12 raka’at tersebut, yaitu:

أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelah zhuhur, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.” [HR. At-Tirmidzi dari Aisyah dan Ummu Habibah radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 6183]



  • (3) KEUTAMAAN SHOLAT MALAM (TAHAJJUD & WITIR)


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ

“Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan sungguh sholat malam itu adalah pendekatan diri kepada Allah, pencegah dari dosa dan penghapus kesalahan-kesalahan.”[HR. At-Tirmidzi dari Bilal radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 4079]




  • (4) KEUTAMAAN MENELADANI WUDHU NABI SHALLALLAHU ’ALAIHI WA SALLAM & SHOLAT DUA RAKA’AT SETELAHNYA


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian sholat dua raka’at tanpa berkata-kata terhadap jiwanya (khusyu’), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu]



  • (5) SHOLAT TAHIYATUL MASJID


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Apabila seorang dari kalian masuk masjid maka janganlah ia duduk sampai ia melakukan sholat dua raka’at.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qotadah bin Rib’i Al-Ansho riradhiyallahu’anhu]



  • (6) KEUTAMAAN SHOLAT TAUBAT


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Tidaklah seseorang melakukan dosa, kemudian ia bangkit untuk bersuci (berwudhu), lalu melakukan sholat (dua raka’at), kemudian memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.”

Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam membaca ayat,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”(Ali Imron: 135) [HR. At-Tirmidzi dari Abu Bakr radhiyallahu ’anhu, Shahihut Targhib: 680]


  • (7) KEUTAMAAN SHOLAT SUNNAH DI HARI JUM’AT SEBELUM KELUARNYA IMAM (UNTUK BERKHUTBAH)


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

“Barangsiapa mandi, kemudian mendatangi Jum’at, lalu sholat sesuai dengan kemampuan yang Allah tentukan baginya, kemudian ia diam sampai imam selesai dari khutbahnya, kemudian ia sholat bersamanya, maka akan diampuni dosanya antara Jum’at itu sampai Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]



  • (8) SHOLAT SUNNAH SETELAH JUM’AT


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

“Apabila seorang dari kalian telah melakukan sholat Jum’at, maka hendaklah melakukan sholat sunnah 4 raka’at setelahnya.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]



  • (9) KEUTAMAAN SHOLAT DHUHA DAN WAKTUNYA YANG PALING UTAMA


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

"Setiap pagi, atas setiap persendian seorang dari kalian hendaklah bersedekah, maka setiap ucapan tasbih (subhaanaLlaah) adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (alhamduliLlaah) adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (laa ilaaha illaLlaah) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (Allaahu Akbar) adalah sedekah, memerintahkan yang ma’ruf adalah sedekah, dan melarang yang mungkar juga sedekah. Dan mencukupi itu semua dua raka’at sholat dhuha yang dilakukan seseorang.” [HR. Muslim dari Abu Dzarradhiyallahu’anhu]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Sholatnya orang-orang yang taat (sholat dhuha) adalah ketika anak-anak unta mulai kepanasan.”[HR. Muslim dari Zaid bin Arqom radhiyallahu’anhu]

An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَفِيهِ : فَضِيلَة الصَّلَاة هَذَا الْوَقْت . قَالَ أَصْحَابنَا : هُوَ أَفْضَل وَقْت صَلَاة الضُّحَى ، وَإِنْ كَانَتْ تَجُوز مِنْ طُلُوع الشَّمْس إِلَى الزَّوَال

“Dalam hadits ini terdapat keutamaan sholat (dhuha) di waktu ini.

Para ulama sahabat-sahabat kami berkata, inilah waktu sholat dhuha yang paling afdhal (yaitu tatkala anak-anak unta mulai kepanasan), meskipun boleh sholat dhuha sejak terbit matahari (yakni sempurna terbitnya) sampai waktu tergelincir (yakni sebelum waktu zhuhur).” [Syarah Muslim, 6/30]

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


Sumber: Klik   ➡   www.SofyanRuray.info 



Perbedaan Orang Hidup & Orang Mati, Rumah & Kuburan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ                            

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan tidak berdzikir bagaikan orang hidup dan orang mati.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Dan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِى يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِى لاَ يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah padanya dan yang tidak disebut nama Allah padanya bagaikan orang hidup dan orang mati.”[HR. Muslim dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Dan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqoroh.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]


Mutiara Hadits ;

  • ✏   1. Kehidupan hati lebih penting daripada kehidupan jasad, sebagaimana kematian hati lebih berbahaya dibanding kematian jasad, sehingga orang yang hatinya mati diperumpamakan bagai orang yang sudah benar-benar mati, walaupun jasadnya masih hidup.


  • ✏   2. Hidupnya hati dengan berdzikir kepada Allah ta’ala, dan matinya hati dengan melupakan-Nya.   Adapun dzikir yang dimaksudkan bukan sekedar lafaz yang diucapkan dengan lisan, tapi hendaklah dipahami dan diagungkan dengan hati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menjalankan perintah Allah ta’ala dan menjauhi larangan-Nya.


  • ✏   3. Bacalah Al-Qur’an di rumah, jangan membacanya di kuburan, karena hal itu termasuk bid’ah, mengada-ada dalam agama, dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu di atas, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memberikan isyarat pelarangannya (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 3/114, no. 14409)


  • ✏   4. Mengusir setan dari rumah dengan membaca surat Al-Baqoroh, jangan panggil dukun, paranormal, orang pintar atau menyembelih hewan sesajen untuk “penunggu” rumah, karena itu semua termasuk syirik, menyekutukan Allah ta’ala.


  • ✏   5.  Tidak boleh mengubur mayit di rumah kecuali para Nabi dan Rasul jika meninggalnya di rumah (Lihat Fathul Bari, 1/529-530)


  • ✏   6. Menghiasi rumah dengan amalan-amalan shalih, dan menjauhkannya dari perbuatan-perbuatan maksiat seperti gambar-gambar bernyawa, musik dan hal-hal yang dapat melalaikan dari berdzikir kepada Allah ta’ala.


  • ✏   7. Metode pengajaran yang baik dengan menggunakan permisalan agar dapat lebih dipahami.


وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: Klik   ➡   www.SofyanRuray.info